Little Thing Called Love “BE WARMED”

Please tinggalkan komentar atau share. Selamat membaca :)

Little Thing Called Love “FLOWERED” PART 1

Please tinggalkan komentar atau share. Selamat membaca :).

Little Thing Called Love "DEWATA" Haesica FF Oneshoot

Please tinggalkan komentar atau share. Selamat membaca :)

Litle Thing Called Love “New Life” 1 [HAESICA FF]

Please tinggalkan komentar atau share. Selamat membaca :)

Little Thing Called Love “HOPE” Haesica ff romance

Please tinggalkan komentar atau share. Selamat membaca :)

Rabu, 28 Maret 2018

Cari uang di waktu luang dari internet, pasti UNTUNG!!



HI, kali ini aku lagi nggak update cerita hehe.. ngomong-ngomong juga udah pindah lapak akunya, di wattpad. tapi sebelum itu aku mau share cara dapet uang di waktu luang. Apalagi mahasiswa kayak aku yang usdah ada di semester dewa dan kerjaannya cuma macarin skripsi aja wkwkwk

waktu ngerjain skripsi juga akunya butuh uang sih.. beli printer apalagi karena printer rusak 2 tahun yang lalu. Beli kertas dan el el. akhirnya aku ditawarin sama temen buat ikut cari uang di salah satu web penglihat iklan.. =>>

kaya gini
http://anmoney.bid/7545330306809/

http://anmoney.bid/7545330306809/


http://anmoney.bid/7545330306809/ (klik link ini atau salin dan paste di browser kalian.)

web ini nyediain cara buat menghasilkan uang di waktu luang kita. iya sih..pake bahasa inggris, tapi mbah google translet bisalah bantu-bantu dikit wkwk

gampang banget sih.. tingggal kita isi di kolom angka trus klik continue nanti kita dapet 0,1 sen untuk tiap kali isi di kolom. jadi buat dapet 1 dollar butuh 10 kali isi di kolom. butuh perjuangan si.. tapi emang gitu kan.. gga ada yang namanya pohon uang soalnya. tapi kalo ada niat pasti ada jalan,

pertama-tama kita kudu resgustrasi dulu, cuman butuh alamat email kok.. gampang kan??? hehe

selamat mencoba ;)


Kamis, 18 Mei 2017

Lee Family Kingdom "STORM" part 8 ending

PART 8
ending

Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan dan yang mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.
—godaku—

Lee Family Kingdom “STROM” | A fanfiction by gorjessO@2016 All Right Reserved
Fb : Tatika Fransmorona | @tha_tika29 // Instagram: @gorjesgyu

Ini adalah kelanjutan dari series LEE FAMILY KINGDOM dan aku saranin bagi kalian yang lupa dengan cerita LEE FAMILY KINGDOM untuk baca lagi ff Around dan Pregnant
Ok, selamat membaca

=Strom | gorjesso=


Hujan di langit turun rintik tak sederas malam tadi. pagi ini hanya menyisakan gerimis dan embun yang masih pekat di pukul 5 pagi waktu Cina. Polusi udara yang menjadi isu di negara ini sedikit menurun karena intensitas air langit yang menambah kesejukan. Hal ini menjadi anugerah tersendiri untuk warga Cina akrena tak perlu menggunakan masker untuk bepergian keluar rumah dan melakukan kegiatan keseharian mereka.

Namun nyatanya tidak untuk seorang laki-laki yang terduduk di tepi ranjangnya. Semalaman ia hanya tidur sekitar dua jam setelah pesawat mendarat di bandara ibu kota negara ini. pergi tanpa persiapan apapun dan langsung memesan tiket dengan bantuan assistennya untuk memesankan kamar hotel juga. Ia pergi dari Korea Selatan dengan penerbangan terakhir yang masih tersisa dan mendapatkan kelas ekonomi untuk penerbangannya.

Tidak masalah, selama ia bisa langsung pergi dari Korea Selatan. Atau lebih tepatnya melarikan diri dari negara itu dengan membawa segala kekeruhan di dalam hatinya yang hancur tak bersisa saat ini.

Tak ada airmata. Selain karena ia adalah seorang laki-laki, atau bisa disebut sebagai pria arena usianya. Kris merasa dirinya tidak bisa menangisi apapun keputusan yang sudah dibuat Jessica untuknya. Atau untuk mereka semua.

.......

“Kau harus cepat memberitahu Sungmin oppa..sebelum keputusanmu goyah. Dan aku pun lebih mendukung keputusanmu yang ini.”

Jessica menatap Minkyung dengan sorot penuh rasa terimakasih. Ia kemudian meraih ponsel yaang tergeletak tak jauh dari jangkauan tangannya. Senyum terbit di bibir tipisnya. Jemarinya bergerak mantap untuk mengetik nomor ponsel Sungmin yang sudah sangat ia hafal.

Dering pertama, sambungan telpon itu dijawab. Meskipun rasanya saat ini jantungnya seperti sedang melakukan parade sebelum perang terjadi dan membuat huru-hara pada sekujur tubuhnya. Jessica mantap untuk memberitahukan keputusannya kepada Sungmin. Ia butuh bantuan kakaknya itu untuk menyelamatkan kembali rumah tangganya.

“Oppa...” Panggil Jessica pelan begitu Sungmin mengatakan hallo dari seberag sana.

“Ya, Jess...kau baik-baik saja?” Terdengar nada khawatir saat Sungmin bertanya.

“Iya, aku baik-baik saja... oppa, aku butuh bantuanmu.” Tutur Jessica pelan namun mantap.

“Bantuan? Apa? Apa yang harus aku bantu?”


....


Dalam waktu 45 menit. Sungmin sudah berada di hadapan Jessica. Setelah mendnegar bantuan apa yang yang dimaksud oleh Jessica. Sungmin langsung melesat menuju klinik kesehatan milik teman Jessica, Kang Minkyung yang juga sudah di kenal baik olehnya.

 Ia langsung melompat memeluk adiknya itu dan mengecupi puncak kepalanya seolah mereka sudah berpuluh tahun tidak bertemu. Namun bukan dalam konteks itu wajah Sungmin nampak berbinar cerah dan memancarkan kelegaan. Sungmin bahagia saat Jessica mengatakan keputusan yang akan diambil oleh adiknya itu. dan ia tentu saja mendukung seratus persen apa yang akan menjadi keputusan akhir yang nantinya pasti akan membuat semua orang bahagia. Walaupun mungkin ada satu orang yang dikorbankan, namun menurutnya itu lebih baik ketimbang harus menghancurkan sebuah keutuhan rumah tangga dimana ada banyak hal yang pasti akan berubah usai kehancuran itu terjadi. Dan Sungmin tidak ingin melihat kehancuran itu menimpa keluarga adiknya. setelah perjuangan di masa lalu, mereka berhak bahagia di masa depan.

“Ayo... Donghae dan Bakehyun sendag berada di rumah bersama istri dan anakku di appartemen milikku.”

Setelah berpamitan dan mengucapkan banyak terimakasih kepada Minkyung, Sungmin menggiring Jessica untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Ia membantu Jessica menggunakan safety belt kemudian ia sendiri langsung masuk dan duduk di belakang kemudi. Setelah memasukan manuffer, mobil putih range rovernya melesat membelah jalanan dengan rasa tak sabar untuk segera sampai di tempat tinggalnya dan menyampaikan berita bahagia ini.

30 menit kemudian, mereka usdah sampai di basement gedung apartement Sungmin. ia membantu Jessica turun dari mobil karena kondisi Jessica juga maish lemah namun sudah lebih baik ketimbang tempo hari. Pikiran positif membantu Jessica untuk bisa pulih dan menjalarkan energi baik kepada tubuhnya. Ia merasa mantap dengan apa yang akan dia lakukan. Meskipun ia juga cemas dengan apa yang akan terjadi atau lebih tepatnya bagaimana reaksi Donghae nanti. Membayangkan penolakan yang akan ia dapati dari pria itu sempat membuat Jessica rasanya ingin mundur. Namun Sungmin mengatakan padanya,

“Kebahagiaan dan penderitaan itu kita sendiri  yang membuatnya. Jika saat ini kau ingn bahagia, maka percaya dan berpikirlah positif, jangan ragu...kau hanya akan menderita jika kau membohongi dirimu sendiri”

Maka dengan langkah mantap ia menyusuri koridor di lantai dimana Sungmin tinggal. Dan beberapa langkah lagi mereka akan sampai di depan pintu apprtemen Sungmin.

Terdengar bunyi bbep usai Sungmin menekap password appartemennya. Dan pintu kemudian dibuka.

“Aku pulang!!” Seru Sungmin dengan aura bahagia yang tak bisa di sembunyikan. Ia kemudian menyuruh Jessica untuk menunggu di ruang tamu. Ia ingin membuatkejutan untuk Donghae.

Jessica menurut dan dirinya pun juga tak bisa berhenti untuk tersenyum. Ia menyentuh jantungnya yang kini bertalu-talu. Ia cemas, namun rasa cemas itu tertutupi dengan rasa ingin segera merengkuh suaminya. Ia rindu pria itu. dan ia rindu anaknya juga.

DOnghae, Baekhyun, istri Sungmin dan anaknya langusng menoleh mendengar suara Sungmin. dan mereka mengernyit bingung melihat Sungmin yang tersenyum lebar usai satu setengah jam yang lalu berpamitan dengan terburu-buru berkata ada sebuah urusan penting. Dan sekarang pria satu anak itu kembali dengan wajah super cerah dan seolah baru saja mendapat jackpot 1 miliyar Won.

“Wae, Hyung?” Tanya Donghae yang heran melihat perubahan ekspresi Sungmin. karena sejak masalah yang menimpa dirinya dan Jessica, pria itu juga ikut murung dan selalu menampakan ekspresi wajah keras seolah marah dan kecewa. lalu apa yang terjadi pada Sungmin tadi sehingga bisa merubah setingan wajahnya 180 derajat.

“Tebak...siapa yang ku bawa kemari.” Ujar Sungmin.

Mereka yang berdiri di hadapan Sungmin semakin mengernyitkan dahi mereka tak mengerti.

“Kau sedang bermain tebak-tebakan, yeobo?” Tanya istri Sungmin keheranan.

Sungmin tertawa kencang mendnegar pertanyaan istrinya. “Bukan...tapi aku membawa seseorang untuk kejutan kalian semua.”

“Kejutan apa, paman?” Tanya Baekhyun, ia tibatiba antusias emndengar kata kejutan.

“Baekhyun ingin tahu kejutan apa?”

Bocah kecil itu lantas mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat. Sungmin semakin melebarkan sneyuman di wajahnya. Mengacuhkan tatapan penuh tanya dan penasaran dua orang dewasa yang ia hadapi saat ini.

“Tunggu ya, sayang...” Kata Sungmin seraya mengusap puncak kepala Baekhyun lalu menepuk bahu Donghae yang masih belum bisa menebak apa yang sedang Sungmin lakukan saat ini.

Sungmin kemudian berjalan kembali keluar dari ruang keluarga. Dua menit kemudian. Sungmin muncul kembali di tempat dimana Donghae dan istrinya serta dua bocah menantikannya.

“Oh...Sica...” istri Sungmin tidak bisa menutup keterkejutannya melihat Siapa yang di bawa oleh suaminya. Ia terkejut bukan main melihatnya.

Dan hal itu juga berlaku untuk DOnghae. Pria itu mendadak kaku dan tubuhnya menegang hebat. Jantungnya membuat irama yang tak menentu di dalam tubuhnya. Rasanya bumi barusan membuat goncangan hebat hingga membuat efek terkejut yang bukan main rasanya.

Di tempatnya berdiri, Jessica yang menunduk mencoba untuk mengangkat perlahan kepalanya. Dan saat ia sudah benar mengangkat kepalanya. Ia langsung mencari sorot mata dari pria yang ia rindukan.

Ketemu!

Dan rasa rindu seolah mengalir hebat di setiap aliran nadinya. Mengoyak segala pertahanan yang ia buat selama ini dan matanya membuat sebuah kolam air yang akhirnya sudah tidak kuat lagi menampung volume isinya. Tumpah mengaliri pipi putih Jessica.

‘oppa’ batinnya memanggil. Ia ingin sekali memeluk pria yang kini menatapnya terkejut.

Ia tahu, inilah yang akan pertama terjadi ketika ia  muncul dihadapan pria itu usai keputusan yang mereka sepakati dan ujungnya menyakiti pria yang begitu dicintainya itu. pria pemilik hatinya. Dan pria yang menjadi ayah dari anak dan calon anaknya.

“Bicaralah, aku akan membawa Baekhyun bersamaku.” Ujar Sungmin, ia membawa istri dan anaknya serta Baekhyun untuk meninggalkan apprtemennya. Guna memberikan pria vasi pada sepasang manusia yang masing berstatus suami istri itu.

“Eomma...” Panggil Baekhyun, memeluk perut Jessica dengan sayang.

Jessica tak bisa lagi membendung lebih lama lagi untuk tidak menangis kencang. Ia menunduk memeluk putra sulungnya itu. mengecupi seluruh wajah tampan putranya lalu memeluknya lagi. Betapa rasa bersalah saat ini melingkupi hatinya. Ia merasa sangat sakit melihat putranya yang juga menangis melihatnya.

‘apa yang sudah ia perbuat?’ ia merutuki dalam hati kekacauan yang sudah ia lakukan. Dan saat ini ia berniat untuk membaiki apa yang sudah diujung tanduk ini. Rumah tangganya harus kembali utuh seperti sedia kala.

Setelah tangisan Baekhyun berhenti dan mau mengikuti Sungmin. kini tinggalah dirinya dan Donghae yang berada dalam unit apatemen Sungmin. Suasana hening menyelimuti mereka.

Jessica masih mencoba untuk menguasai dirinya usai menangis bersama putranya. Dan kini setelah ia merasa bahwa yang ia lakukan benar ia kembali menatap Donghae. Menatap suaminya yang sejak tadi masih berdiri diam di tempatnya. Wajahnya menampakan sesuatu yang tak bisa di baca oleh Jessica. membuat ia cemas dengan reaksi Donghae nantinya.

Namun dengan keteguhan hatinya, ia melangkah mendekat kepada Donghae. Ia mencoba melihat lagi apa yang ada di pikiran suaminyaitu lewat matanya. Mata coklat yang ia rindukan. Mata coklat yang selalu berbinar setiap mengatakan cinta padnaya. Dan ia rindu ungkapan cinta dari suaminya. Ungkapan yang menyatakan beribu janji yang selama ini selalu di tepati oleh pria itu. justru dirinya lah yang melanggar janji mereka. dan ia merasa bersalah untuk semua itu. ia berhak di benci, tapi ia tidak ingin dibenci juga. Rasanya ia ingin mati jika sampai ia melihat sorot benci dari suaminya, pria yang dicintainya.

“Oppa...” Jessica menghambur ke dalam pelukan Donghae saat satu langkah lagi ia mendekat pada pria itu. Rasa rindu yang merebak di dadanya membuat dia sudah tidak tahan lagi untuk melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh Donghae dan menubruk pria itu.

“Oppa...” Panggilnya pada Donghae yang masih diam saat dirinya memeluk erat tubuh tegap Donghae.

“Oppa..” Panggilnya sekali lagi. Ia mendongak untuk menemukan bola mata Donghae. Dan detik pula, rasa bersalah yang tadi berlaku pada Baekhyun juga ada pada saat ia mendapati DOnghae, prianya...menangis dalam diam.

“Oppa...mianhe, oppa...mianhe...” Ia kembali membenamkan dirinya di relung dada Donghae sambil menangis terisak disana. Rasanya, jutaan kata maaf tidak akan bisa mencabut rasa bersalahnya. Rasanya sesak hingga ia kesulitan bernafas.

Prianya menangis sekali lagi di hadapannya. Karena kesalahannya. Betapa semua itu membuktikan bahwa ia adalah seorang hamba Tuhan yang terkutuk saat melihat karena dirinya hamba Tuhan yang lain harus menangis karena luka yang di timbulkannya.

Saat sepasang lengan memeluk dirinya. Jessica semakin mengencangkan tangisnya. Rasa bersalah itu tak terelakan lagi. Ia ingin sekali pergi dari dunia ini melarika diri karena tanggungan rasa bersalah itu. namun ketika merasakan balasan pelukan dari Donghae, membuat sebuah harapan muncul bahwa Donghae kembali menerima setelah segala hal yang terjadi pada rumah tangga mereka.

“Mianhe...oppa...mianhe...” kata maaf itu terus meluncur dari bibir Jessica. yang rasanya tak pernah cukup untuk menutupi lubang besar dari luka yang sudah ia torehkan di hati suaminya.

...

Setelah mereka berpelukan. Donghae menuntun Jessic untuk duduk di sofa yang ada diruangan itu. Tak bisa di pungkiri rasa bahagia melihat Jessica, walaupun sempat dibuat terkejut. Seolah ini adalah mimpi dan ia tak berharap terbangun karena terlalu bahagia. Namun mimpinya itu terbangun namun dengan sambutan kenyataan yang membuatnya terbang oleh rasa bahagia dan rasa lega saat sepasang lengan mungil Jessica memeluknya. Tubuh mungil yang ia rindukan itu memeluknya erat dan memanggil namanya beserta rentetan kata maaf yang tak berkesudahan.

Dari situ ia paham. Jika Jessica nya kembali. Tak jadi pergi meningalkannya sendiri di dunia ini. tidak jadi membiarkannya mencintai wanita itu dalam diam, dalam mimpi, dan dalam jarak yang jauh. Karena pelukan itu membuktikan bawa wanita itu akan berada disisinya, memohon untuk terus bersamanya, dan berbagai bukti bahwa mereka akan meneruskan janji yang sempat terhenti oleh datagnya seorang dari masa lalu istrinya itu.

Jemarinya terangkat mengusap lembut jejak air mata di pipi istrinya. Ya, istrinya. Sebutan itu terasa benar keluar dari benaknya. Wanita itu memang istrinya, ibu dari anaknya. Wanita yang ia cintai dan ia beri segala apapun dalam hidupnya untuk di genggam oleh wanita itu. dan hampir saja wanita itu melepaskan dirinya. hampir. Namun akhirnya wanita itu terus menggengamnya bahkan sat ini menangis bersamanya.

“Jangan menangis...” Ujar Donghae yang tak bisa lagi melihat kucuran deras air mata Jessica. Sudah cukup, ia memang bahagia saat melihat airmata itu karena berarti jika Jessica sedang meratapi kesalahannya dan ingin kembali padanya. namun jika airmata itu terus mengalir, ia juga tak akan sanggup melihatnya. “Aku sudah memaafkanmu...sudah...jangan menangis lagi..”

Ditariknya tubuh mungil itu untuk masuk kedalam rengkuhan tangannya. Memeluk seerat yang ia bisa seolah besok mereka tak akan bisa berpelukan dan menyalurkan segala rasa rindu yang tertahan.

Bibir Donghae tak hentinya mengecupi puncak kepala istrinya dengan sayang dan tulus. Ia sungguh sudah memaafkan Jessica. karena kesalahanya dulu juga sudah di maafkan oleh Jessica dan mereka bisa kembali bersama. Maka dari itu, semua kejadian di masa lalu menjadi pembelajaran bahwa dengan memaafkan mereka bisa kembali bersama. Karena Donghae sendiri tak ingin membayangkan lagi jika dirinya harus kehilangan Jessica. tidak...ia tidak ingin semua itu terljadi. Dan memaafkan, adalah option terbaik yang akan diambilnya.

“Kau memaafkan ku, oppa?” Tanya Jessica memastikan. Dirinya masih berurai airmata, namun sudah bisa menguasai dirinya.

Donghae mengangguk mantap. Ia memaafkann istrinya. Entah apa yang membuat Jessica berubah pikiran untuk kembali ke sisinya. Ia patut berterimkasih untuk semua itu. sangat amat berterimakasih.

“Gomawo...jeongmal gomawo...” Isak Jessica, ia merasa beban di hatinya terangkat saat DOnghae memaafkannya. Rasanya segala yang mengganjal di hatinya hancur sudah dan digantikan oleh rasa bahagia yang tak terkira besarnya. “Gomawo...”

“Aku memaafkanmu karena aku mencintaimu Jessica....aku tak ingin kehilanganmu... aku tidak berani membayangkan akan sehancur apa diriku nantinya...”

“Aku juga mencintaimu, oppa...sangat...jangan ragukan itu untuk kali ini. aku juga tak ingin kehilanganmu. Maaf..sudah membuatmu terluka, aku juga sama hancurnya denganmu, oppa...”

“Jangan pernah pergi dariku...jangan...”

“Tidak...aku tidak akan pergi kemanapun, pegang janjiku, oppa...”


...


Pintu rumah Kris di ketuk. Ini sudah jam sepuluh pagi saat ia sedang menikmati teh hijaunya dengan koran yang ada di tangannya. Ia tak dapat mengira siapa tamu yang bertandang ke rumahnya. Karena kediaman pribadinya tidak pernah di datangi oleh tamu selain orang terspesialnya, Jessica. Dan Jessica pun tak perlu menekan bel ataupun mengetuk pintu. Wanita itu sudah tahu digit nomor untuk membuka password pintu rumah ini.

Ia berjalan meninggalkan kegiatan di hari santainya dan bergerak menuju pintu. Semua pelayan di rumahnya sedang ia liburkan kerena ia ingin sendirian di rumah. Jadi ia sendiri yang harus turun tangan untuk membukakan pintu.

Tak ada lubang di pintu untuk mengintip siapa yang datang ke rumahnya. Tapi ada monitor yang bisa menampakan pemandangan di teras rumahnya. Ia menilik monitor itu dan menemukan Donghae di sana bersama Jessica.

Seketika kening putihnya berkerut menandakan ia sedang berpikir keras dengan adanya Donghae yang datang bersamaan dengan Jessica di sampingnya. Saat itu juga, berbagai pikiran negatif menghampirinnya. Otaknya tak mampu mencerna situasi yang akan di hadapinya saat ini, atauopun sebentar lagi. Yang pasti, feellingnya menebak jika akan ada hal buruk yang terjadi, entah itu benar atupun tidak. Saat ini saja dadanya terasa sesak, tenggorokannya tercekat, dan ia bisa merasakan jika oksigen pergi dari sekitarnya.

Sekali lagi, ia mendengar dengan jelas denting bel rumahnya. Tapi dirinya masih berdiam di balik pintu. Ia gamang untuk menggenggam kenop pintu rumahnya. Demi Tuhan! Semua ini terasa berat! Sangat! Sekalipun Jessica nampak baik-baik saja dan seolah menyiratkan akan memilih untuk berada di sisinya tempo hari, namun mellihat saat ini. semua itu hanya harapan kosong, seolah keadaan sednag menertawakannya yang sudah kalah sebelum wasit menyatakan pertandandingan selesai karena skor telah dibabat habis oleh Donghae.

CKLEK

Namun pada akhirnya, Kris memegang kenop pintu rumahnya dan mulai membuka. Ia lelaki, sekalipun saat ini hatinya sudah hancur tak bersisa, ia harus  tegar menghadapi keputusan yang telah di tentukan oleh Jessica. ia tentu berharap yang terbaik untuknya. Namun jika kenyataannya lain, ia berharap setidaknya itu akan adil untuk siapapun. Dan yang terpenting, Jessica bahagia. Sudah, itu saja yang menjadi pikiran Kris saat pintu rumahnya sudah terbuka lebar, dan sudah tidak ada lagi penghalang di antara mereka bertiga.

... 

Jessica terus berdo’a di sepanjang jalan menuju rumah Kris. Meskipun keputusan sudah ia jatuhkan untuk tetap berada disisi Donghae, suaminya. Namun ia tetap tidak siap melihat wajah kecewa dari pria yang juga di sayanginya.

Dan genggaman tangan Donghae yang hangat dan nyaman menyadarkannya. Bahwa keputusannya ini memang sudah ebnar dan bulat. Ia tak mungkin mengorbankan banyak hati untuk kebahagiaannya bersama Kris. walau sebaliknya ia juga harus mengorbankan Kris untuk kebahagiaan keluarganya.

“Aku mencintaimu.” Kalimat ituterus terucap di bibir Donghae, seolah mengatakan kepada Jessica untuk tidak berubah pikiran lagi dan jangan pernah meninggalkannya. Karena Jessica adalah nafas Donghae, rusuk yang hilang dari tubuh DOnghae, dan Donghae tak yakin akan tegap berdiri setelah Jessica pergi. Karena Donghae menyayangi  Jessica dengan segenap jiwanya. Ingin terus bersama hingga mereka nanti terpisah oleh kuasa tuhan, lalu di tempatkan dalam bidang tanah yang berbeda, dimana nanti Donghae akan menempati bidang tanah di sisi bidang tanah milik Jessica.

Jessica tersenyum. Lidahnya masih kelu untuk membalas pernyataan Donghae namun ia mengecup bibir suaminya itu untuk menyampaikan bahwa ia juga merasakan hal yang sama. apa lagi dengan adanya buah hati mereka yang kedua di dalam perut Jessica. Jessica semakin yakin untuk menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada Donghae. Dan juga akan mengabdikan dirinya untuk keluarga mereka, mencintai mereka sampai Tuhan berkata bahwa ia cukup berada di dunia ini dan berpulang, dan ia harap, waktu dirinya berpulang adalah ketika mereka sudah beruban, ditemani anak dan cucu mereka. lalu menggandeng tangan Donghae di tarikan nafas terakhirnya.

Jalan yang mereka lewati menunjukan bahwa sebentar lagi mereka akan sampai di tempat tinggal Kris. di kawasan elite para pengusaha menyimpan properti berupa bangunan mewah. Setelah melewati pos keamanan, mereka menuju rumah Kris. dan sampailah mereka di teras sebuah rumah mewah bergaya victoria dnegan aksen taman khas negara tirai bambu.

Detak jantung Jessica bertalu cepat. Semakin di eratkannya genggaman tangannya pada lengan DOnghae, mencari pegangan jika nantinya ia tidak siap untuk bertemudengan Kris dan menyampaikan apa yang akan mempengaruhi masa depan mereka bertiga.

...

Mereka bertiga duduk dalam satu ruangan yang luas dan namun terasa sempit karena oksigen yang mendadak hilang dari ruangan yang seharusnya mampumemancarkan udara sejuk karena ada AC dan pintu rumah yang dibiarkan terbuka membiarkan angin sepoi masuk. Namun angin itu sepertinya ketakutan sebelum masuk kedalam rumah Kris melihat suasana yang cukup menegangkan disana.

Sejak mereka duduk di ruangan itu, dimana Kris duduk di hadapan Jessica dan Donghae. Dan tatapan mata Kris sesekali melirik kepada tautan tangan Jessica dan Donghae. Ternyata instingnya benar, Jessica membawa keputusan yang nantinya akan membuat dirinya hancur, atau bahkan sudah dimulai dari sekarag.

Jessica terus menunduk tak berani sedikitpun untuk menatap Kris. Ia tahu, jika ia egois, dan tidak kompeten, namun tetap saja, melihat seseorang yang ia sayangi akan menderita karenanya adalah hal terakhir yang Jessica harapkan.

“Kris..”

“Aku tahu.”

Sebelum Donghae mengatakan maksudnya, Kris sudah memotong dan menatakan jika ia paham dengan semua yang terjadi.

Jessica mendongak dan langsung bertemu dengan manik mata Kris yang menyorotkan rasa marah, kecewa, sedih, dan banyak hal lagi yang tak mam[pu Jessica jabarkan, namun satu hal yang pasti. Cahaya di mata itu redup, tidak seperti terakhir kali ia melihatnya tempo hari. Dan ia merasa sangat bersalah untuk itu, ia tidak bisa mengatakan jika ia menyesal. Karena jika ia menyesal, maka itu akan semakin membuat Kris hancur.

“Aku tahu...kenapa kalian datang kemari. Aku sudah tahu.” Ujar Kris, dia berkata dengan tegas dan terus menatap Jessica pada bola matanya.

“Kris...aku bisa jelas—“

“Tidak perlu.” Potong Kris lagi saat Jessica mencoba memberi pengertian agar rasa bersalah dan kesalah pahaman tidak terjadi semakin membersar diantara mereka. “Kau tidak perlu mengatakan apapun lagi, Sica..Karena aku sduah tahu. Biarkan ini seperti ini saja, aku tidak ingin mendengar keputusan itu dari mulutmu.”

“Kris...” ucap Jessica lirih. Ia sudah terisak mendengar nada bicara Kris yang tercekat dan terlebih memintanya untuk tidak mengatakan keputusannya. Seolah lebih baik ia mati tanpa harus mendengar kapan vonis hukuman mati itu dijatuhkan. 

Donghae hanya mampu terdiam di antara Jessica dan Kris. meskpun ia cemburu, namun ia harus menekan egonya itu dan memberikan waktu untuk Jessica menyelesaikan apa yang  harus di selesaikan.

“Biarkan selamanya aku tidak pernah mendengar keputusanmu. Dan aku akan berpura-pura untuk tidak pernah tahu apa keputusanmu. Karena...karena itu terlalu menyakitkan...aku akan mundur. Dan...” Kris melirik pada Donghae yang menatapnya juga, dan ia melihat Donghae mengganggu pelan. “Dan...biarkan aku terus seperti ini, aku maish mencintaimu. Sangat. Aku tahu ini salah karena aku emncintai seorang wainta yang sudah bersuami. Tapi seperti sebuah masa lalu, cinta ini akan berubah oleh waktu yang berjalan bersamanya, dan biarkan menajdi kenangan. Biarkan aku mencintaimu dalam diam, dalam mimpiku, dan dalam setiap tarikan nafasku.”

“aku akan pergi, aku mengaku kalah pada cinta Donghae yang begitu besar untukmu. kalian memiliki Baekhyun yang semakin memperkokoh ruamah cita kalian. Aku mengaku iri dengan itu. Aku mundur dengan segala rasa bangga karena pernah ada dalam hidupmu, setidaknya aku  pernah ada dalam benakmu dan pikiranmu. Aku akan mengenang cerita cinta ini. Terimakasih atas semua yang kau berikan. Aku bahagia jika kau bahagia, Jessica. dan aku paham bahwa selamanya kau akan bahagia jika Donghae berada disisimu bersama anak kalian untuk meneruskan apa yang sempat dan hampir aku hancurkan. Aku tak akan pernah meminta maaf, tapi aku juga merasa bersalah.”

Jessica sudah tidak bisa membendung lagi tangisnya. Ia menangis terisak dengan Donghae yang merangkul punddaknya karena ia merasa lemas saat ini. ia memang sudah tidak menyayangi Kris selayaknya perempuan pada lelakinya, namun hanya rasa sayang layaknya kepada saudara laki-lakinya. Kini Jessica sadar akan hal itu.

Ia merasa lega dengan apa yang dikatakan Kris. mereka bertiga memutuskan semua ini dengan cara baik-baik. dirinya tahu, setelah ini Kris akan mengalami waktu yang sulit karena rasa sakit hati dan kekecewaan yang mendalam, dan semua itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan dan melewati itu semua. Ia hanya bisa berharap, jika nantinya mereka bertemu dan takdir membawa emreka untuk berada dalam waktu dan tempat yang sama. dia, Donghae dan Kris telah berada dalam kehidupan bahagia masing masing. Dan saling bertukar cerita bahagia.

Donghae dan Jessica sudah berada di samping mobil yang menunggu mereka beserta sopirnya. Sekali lagi mereka menoleh kepada Kris yang berdiri di ambang pintu dengan senyuman kecil yang pasti terasa berat untuk bisa tercipta disana. Dan Donghae membalikan tubuhnya untuk berkata sesuatu kepada Kris.

“Ku harap ini tidak menganggumu Kris, tapi kami....akan mempunyai anak lagi.” Donghae mengusap perut Jessica yang masih datar. “Calon anak kami yang masih 6 minggu.”

Kejutan apa lagi ini... gumam Kris dalam hati. Di tempatnya berdiri ia seakan bisa merasakan berbagai macam berda tajam merajam tubuhnya. Namun ia juga tidak bisa marah atau melakukan apapun. Melihat Jessica ynag tersenyum saat Donghae mengatakan kabar akan ada malaikat kecil lain di keluarga mereka, Kris hanya bisa ikut berbahagia walau terasa perih dadanya.

“Kalau begitu, selamat. Baekhyun pasti akan senang memiliki teman di rumah.” Katanya, dengan wajah tegar yang palsu.

Ia turut bahagia, namun kebahagiaan itu tidak merembet ke dalam tubuhnya yang saat ini terasa sangat sakit. 

...

Semua ini memang harus di kembali kepada tempatnya masing-masing. Namun peristiwa yang terjadi akan tetap menjadi cerita masa lalu yang patut untuk dikenang, menjadi pembelajaran. Akan banyak hal yang perlu untuk dibagikan ketika anak mereka sudah tumbuh dewasa. Tentang cinta, pengorbanan, pendewasaan, keegoisan, dan kebijaksanaan.

Dan alangkah baiknya mereka mampu menjadi lebih baik dari cerita masa lalu.

Donghae dan Jessica tengah menanti hadirnya anak kedua mereka. yang menutur hasil USG menyatakan jika calon bayi mereka adalah perempuan. Baekhyun sudah sangat senang mendengar jika dirinya akan punya adik seperti teman-temannya di sekolah. Dan bertambah senang lagi ketika mengetahui adiknya berjenis kelamin perempuan. Ia berkata jika dirinya nanti akan menjadi super hero untuk adiknya. dia yang akan menjaga dan melindungi adiknya serta impianimpian lain terkait adiknya itu. yang disambut tawa oleh kedua orang tuanya.

Jessica tersenyum mengusap pipi Donghae. Melihat tawa di wajah tampan itu membuat relung hatinya terasa hangat. Rasa bersalah memang smasih bercokol dalam dadanya, namun ia mencoba untuk terus memberikan yang terbaik kepada keluarganya untuk menebus kesalahannya. Dan sejauh ini, mereka terus bersama tanpa berniat ingin berhenti dan melepas genggaman.

Donghae sendiri tak pernah mereagukan cintanya pada Jessica. mereka telah melewati banyak ujian dan cobaan. Dan itu ia anggap sebagai suatu hal yang dapat menguji kesetian janji mereka di depan altar beberapa tahun silam. Dan nyatanya, sekarang mereka tetap bersama, mencoba semakin kokoh dengan pilar-pilar cinta dan kesetiaan di dalam rumah mereka. agar bisa melindungi apa yang ada di dalamnya, dalam hal ini adalah anak-anak mereka.

Tujuan hidup Donghae dan Jessica hanya satu, yaitu menuntaskan janji mereka di depan altar yang mereka ucapkan beberapa tahun silam. Janji yang mereka ucapkan kembali karena ingin mengukuhkan pernikahan mereka. karena dulu mereka merasa terpaksa, sehingga mereka mengulang lagi janji itu, janji yang mereka ucapkan dengan setulus hati, berserta penyerahan jiwa dan raga untuk melebur menjadi satu dalam jalinan kasih sayang Tuhan.

“Saya Lee Donghae, berjanji akan mencintai Jessica Jung selamanya, dalam keadaan sehat maupun sakit, dalam keadaan susah maupun senang, dan akan melindungi dan menyayanginya sepenuh hati.”

“Saya Jessica Jung, berjanji akan mencintai Lee Donghae selamanya, dalam keadaan sehat maupun sakit, dalam keadaan susah maupun senang, dan akan melindungi dan menyayanginya sepenuh hati.”


Lee Family Kingdom “STROM” by gorjesso @2016 All right reserved

END

Selese juga FF ini... 2 tahun choyyyyy....wkwk...
Maafkan diriku yang tidak pernah konsisten dengan cerita sendiri.
FF ini memang sudah selesai di tulis tahun lalu, tapi karena kasus plagiat aku terpaksa untuk menghentikan post cerita ini. aku meresa sakit hati.

Duh...sakit hati akika... #elusdadaSiwon #plakkkk

Aku memutuskan untuk akhirnya kembali memposting cerita ini karena kalian selalu mencecar saya dengan banyak chat...wkwk...sampe bawa golok segala sampe bilang mau di sunat...

Ih...emang akika cewek apaan...

Dan kenapa sekarang aku jarang bikin FF, alasannya karena aku merasa kehilangan gairah...kehilangan jati diri waktu nulis...bingung....

Kehilangan jati diri karena kebanyakan nongkrong di lapak orang buat baca ceritanya jadi aku kayak binugng mau lanjutin tulisan sendiri yang malah bahasanya dan ciri khas ku ilang... kan akika jadi merasa rempong...terus sejak mengenal wattpad akan teteh watty...aku jadi makin malesz nulis...pengennya baca aja...ini akika jadi makin rempong...

Maafkan akika yang jadi rempong begini yahhh #kibasrambut

Sebenarnya aku lagi nggarap novel yang ke dua, novelnya tentang Jungsis dan juga Haesica. Konfliknya akan berat ke haesicanya. Dan aku menghadirkan sosok yang berbeda kepada Donghae, sia gag akan tertindas disana. Juga novel dengan detail yang perlu banyak referensi waktu aku nulisnya...

Novel ini kayaknya masih lama buat rampung kalau aku aja ogah-ogahan begini...
Jadi remaja ababil memang susah...untung aku enggak alay...ya...dikit lah....dikit doang...

Oh iya, yang tahu gimana cara bikin polling di facebook bisa inbox aku atau DM di Intagram aku ya @gorjesgyu ... soalnya aku  sering main di instagram muehehe..

See u latter at another fanfction....semoga ....hehe







Lee Family Kingdom "STORM" part 7



PART 7

Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan dan yang mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.
—godaku—

Lee Family Kingdom “STROM” | A fanfiction by gorjessO@2016 All Right Reserved
Fb : Tatika Fransmorona | @tha_tika29 // Instagram: @gorjesgyu

Ini adalah kelanjutan dari series LEE FAMILY KINGDOM dan aku saranin bagi kalian yang lupa dengan cerita LEE FAMILY KINGDOM untuk baca lagi ff Around dan Pregnant
Ok, selamat membaca

=Strom | gorjesso=

Sebuah koran ia pegang seolah dirinya tengah membaca, namun maksud dari itu adalah untuk bersembunyi di balik koran itu.  Dan saat itu Donghae rasanya ingin pergi dari tempat itu sekarang juga. Karena hatinya tak akan pernah siap untuk melihat kenyatan yang akan terjadi.

Ia duduk dengan gelisah di tempat duduknya. Tangannya mendadak menghasilkan keringat yang berlebihan. Jantungnya berdebar keras karena hal tersebut. Hari ini, Sungmin berkata ia harus melihat sendiri bagaimana Jessica, istrinya bermain api di belakangnya, dan sudah seharusnya sejak lama ia marah, dan sudah sejak lama pula seharusnya Donghae bukannya diam dan harusnya menegur Jessica. dirinya adalah pemimpin dalam keluarga, dan Donghae berhak untuk mengatur segala sesuatu dalam keluarganya jika tidak ingin keluarganya hancur dan sekarang saja keluarganya sudah berada di ujung jurang kehancuran.

Mata DOnghae berderap melihat ke arah sekitar. Pemandangan hijau nan indah tidak mampu membuat Donghae merasa terpesona karena justru fokusnya adalah mencari sosok yang sejak tadi ia tunggu. Dan ketika matanya menangkap sosok yang ia tunggu berjalan dari arah pintu hotel, jantungnya langsung berdentum keras dan menghasilkan rasa sakit yang semakin lama semakin menyakitkan. Karena sosok yang di tunggunya tengah bergandengan dengan pria lain.

Wajah Donghae sudah pias dnegan hanya melihat hal itu saja.

Kenapa?

Satu kata tanya itu bermunculan di otaknya membuat otaknya tidak bisa berpikir jernih melihat pemandangan di depannya, melewatinya. Dan sekarang mereka sudah duduk di tempat yang sudah di prediksi oleh Sungmin.

Donghae masih bersembunyi di balik koran yang kini menjadi pelampiasanna menahan rasa cemburu, sakit, dan kecewa. matanya membara penuh amarah dan menyirat luka yang mendalam.

Selanjutnya, Donghae melihat mereka memesan makanan kepada pelayan di sana. Dan melihat itu Donghae berinisiatif untuk berdiri dan menghampiri pelayan itu. menanyakan apa yang mereka pesan dan membisiki instruksi lain kepada pelayan itu.

Di titik ia berdiri nampak sangat jauh dari posisi Jessica dan pria yang ia ketahui bernama Kris. ia lupa dimana pertama kali mereka bertemu, tapi wajah itu memang familiar untuknya.

Kris, kata Sungmin pria itu adalah cinta pertama sekaligus kekasih pertama Jessica. mereka menjalin hubungan sudah lama namun putus karena tidak adanya restu dari ayah Jessica saat itu. Kris pun pergi untuk membuktikan kepada ayah Jessica bahwa dirinya bisa menghidupi Jessica, membahagiakannya dan tak akan membuat Jessica merasa miskin. Ya, Kris pergi untuk meraih kesuksesannya. Dan itulah titik dimana Jessica mulai berubah menjadi dingin dan tak tersentuh. Karena Jessica saat itu ingin menjaga hatinya dari pria manapun. Namuan justru ayah Jessica menjodohkan Jessica dengan Donghae, mulanya mereka berdua memang tidak cocok hingga banyak peristiwa membuat mereka mengerti bahwa mereka sudah terikat oleh banyak simpul yang tak akan membiarkan mereka berpisah sekalipun dengan terjangan badai tornado. Jessica dan Donghae memilih bersama dan sampai kemudian lahirlah Baekhyun. Dan setelah itu Kris kembali datang, ia datang untuk memenuhi janjinya ia sudah mapan dan sudah bisa menjemput restu ayah Jessica, namun malang... tanpa ia ketahui janji itu sudah lama hilang dari benak Jessica, ia sudah bersama Donghae dan hidup bahagia.

Dari cerita singkat itu, Donghae pernah merasa bahwa dirinyalah yang salah disini. Ia adalah orang ketiga itu. ia yang telah merebut Jessica dari Kris. namun melihat dari apa yang dulu pernah terjadi kepada dirinya dan juga Jessica serta mantan kekasihnya Nayoung. Donghae kemudian memiliki pemahaman bahwa Jessica adalah miliknya dan ia bukanlah orang ketiga. Masa lalu adalah masa lalu. semua itu hanya akan menjadi kenangan. Bagaimanapun DOnghae dan Jessica sudah berjanji untuk bersama selamanya di depan Tuhan. Janji adalah hutang, dan baik Donghae maupun Jessica harus membayar hutang itu.

Donghae menoleh ke belakang dan melihat pelayan yang atadi sudah membawa nampan yang berisi makanan yang di pesan oleh Jessica dan juga Kris. ia meraih nampan itu dan tanpa basa-basi lagi ia segera berjalan menuju meja dimana Jessica dan Kris berada.

Di sudut lain ia melihat Sungmin yang membulatkan matanya terkejut dengan apa yang di lakukan DOnghae. Rencana mereka bukanlah seperti ini. bukan dengan Donghae yang akan melakukan acara nekat seperti ini. mempergoki mereka dan mungkin akan mempermalukan Jesica dan Kris.

Donghae tidak menghiraukan Sungmin yang memberinya etunjuk untuk tidak melakukan aksinya. Namun rasa marah dan cemburunya tidak bisa di bendung lagi, ia harus segera muncul di dean mereka berdua. Harus!

Dengan tekad kuat ia berjalan menuju meja Kris dan Jessica, dan dua orang itu tengah bercanda ria sehingga tidak menyadari kehadiran Donghae bersama makanan yang mereka pesan. Sampai di hadapan Kris dan juga Jessica, Donghae mulai menaruh pesanan mereka berdua di atas meja dan tetapberdiri di sana sampai akhirnya Kris dan Jessica menyadari keanehan itu kemudian mendongakan kepala mereka lalu terkejut.

....

Di kursinya, Jessica duduk dengan mencengkram sealbelt. Ia berada di dalam mobil dengan DOnghae yang memegang kemudi. Amarah dari pria itu begitu kuat dan membuat suasana di dlam mobil itu tegang. Jessica masih diam semenjak ia di tarik oleh Donghae dari temat makannya bersama Kris. ia menyadari kesalahannya dan ia sekarang merasa malu dan kecewa pda dirinya sendiri.

Ya Tuhan... apa yang sudah aku lakukan?

  Kecepatan mobil yang di atas rata rata membuat mereka lebih cepat sampai di depan rumah mereka. dengan karas Donghae membuka pintu kemudian menarik Jessica untuk masuk ke dala rumah mereka.

Suasana rumah mereka yang biasanya hangat dan ceria mendadak menjadi mencekam. Apalagi ketika Donghae berteriak menumpahkan semua amarahnya tanpa melihat Jessica yang menunduk dengan airmata yang sudah berderai di wajahnya.

Ini salahnya. Batin Jessica.

Mereka hanya diam selama beberpa saat setelah Donghae berteriak. Posisi Jessica masih berdiri di sisi pintu rumah mereka yang tertutup. Dan Donghae berdiri beberapa lagkah di depan Jessica dengan punggung yang tersaji untuk Jessica. punggung yang perlahan menjadi putus asa setelah teriakan pria itu terdengar dan hal itu membuat Jessica merasa sangat sedih. Ia merasa hancur melihat punggung itu kini bergetar. Jessica tahu Donghae tengah menangis saat ini, dan ia merasa sangat menyesal dengan semua yang telah ia lakukan di belakang Donghae, suaminya.

“Mianhe....miankeh, oppa..”

Kata maaf terucap dari bibir Jessica, terus seperti itu namun sama sekali Donghae berniat untuk membalikan tubuhnya melihat Jessica disana yang merasa putus asa sendiri di tenagah kubangan rasa bersalah.

“Wae?” kata itu terucap untuk sekian waktu yang bergulir diantara mereka dari bibir Donghae.


Kenapa?

Ya, Kenapa?

Kenapa Jessica harus melakukan ini?

Apakah wanita itu tidak bahagia bersamanya?

Apakah ia melakukan kesalahan sehingga wanita itu ingin opergi darinya?

Kenapa...kenapa wanita itu harus melakukan ini padanya dan keluarga mereka?

Wae?

Masih belum berbalik, Donghae menunggu apa jawaban Jessica untuk pertanyaannya. Namun seperti prediksi Donghae, pertanyaan itu pasti akan membutuhkan waktu lama untuk terhjawab.

“Please Say Something, Even Though It Is a Lie..” Gumam DOnghae. Ia selalu berharap dalam do’anya bahwa semua ini adalah mimpi buruk saja. Tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Namun kenyataan akan tetap menghantamnya dan membangunkannya dari mimpi.

“Mianhe...”

Namun hanya kata maaf yang terdegar.

....

Sejak kejadian itu, Donghae mulai menjauh. Walau mereka masih tidur di ranjang yang sama namun Donghae mulai melakukan apa yang biasanya di lakukan oleh Jessica dengan tangannya sendiri. Seerti menyiapkan kopi, Donghae sudah tidak mau lagi merasakan kopi buatan Jessica dan memilih membuat kopi sendiri. Tidak pernah makan makanan Jessica kecuali jika di hadapan anaknya.

Kesedihan dan rasa menyesal semakin merundungi Jessica. wanita itu semakin terpuruk dengan keadaan ini. mereka dekat tapi untuk menyentuh tangan Donghae dan menciumnya seperti biasa sebelum Donghae berangkat kerja pun sudah tidak penrah lagi ada. Jarak membentang di antara mereka sangatlah mengerikan. Hingga membuat tidurnya tak pernah nyenyak sehingga dirinya lebih memilih untuk tetap terjaga dan menatapi wajah suaminya, namun sayangnya, bukan wajah yang ia dapat, melainkan punggung suaminya. Karena sejak itu Donghae selalu tidur memunggunginya, dan Jessica semakin mersa kesepian karena sudah tidak pernah lagi Donghae memeluknya ketika mereka tidur. Pelukan hangat yang sangat Jessica rindukan.

Dan Donghae, ia memang merindukan Jessica. sangat. Namun ia akan merasa sangat kesakitan ketika ia mencoba untuk berbicara kepada Jessica atau berada sangat dekat dengan istrinya itu. ia masih terus diam dan mengacuhkan segala bentuk perhatian Jessica. dan ia pun sudah tidak pernah lagi mau membahas tentang perselingkuhan Jessica. karena ia sdah tidak mau tau lagi. Yang terpenting adalah menjamin bahwa Baekhyun akan baik-baik saja dan membuat Baekhyun tidak akan pernah tahu apa yang sedang terjadi diantara kedua orangtuanya. Ia tidak ingin Baekhyun mereasakan kekecewaan yang ia rasakan apalagi anaknya masih sangat kecil untuk bisa mengerti apa yang terjadi.

Namun amarah Donghae kembali memuncak, rasa kecewa itu semakin terpupuk di dlaam dadanya. Saat ia melihat Jessica kembali bertemu dengan Kris. Ya Tuhan... apa rumah tangganya sudah tidak bisa di selamatkan lagi?

Hari dimana ia melihat Jessica dan Kris adalah hari dimana ia akan menyudahi aksi diamnya dan berbicara baik-baik untuk kedamaian keluarga mereka. namun yang ia dapati justru hal seperti ini.

Donghae tertawa tanpa suara. Hatinya terenyuh sakit. Ia duduk di sofa dengan keadaan ruang yang temaram. Malam menyambut dan kini sudah pukul 9 malam. Namun Jessica juga belum kembali. Ia menunggu Jessica sejak tadi dan ia ingin mengutarakan apa yang sudah ia pikirkan matang-matang mengenai rumahtangganya.

Dan KLIK. Suara alarm pintu rumahnya berbunyi, saat itulah sosok Jessica terlihat. Dan ia terkejut melihat Donghae yang saat ini berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

“Aku ingin berbicara padamu.” Kata Donghae.

“Y—ya..oppa..”

Donghae menghela nafasnya dan membuang muka dari Jessica. ia tak sanggup lagi melihat wajah itu. rasa sakit didadanya sanagt menyakitkan.

“Aku tidak akan berbasa-basi...”

Jessica menatap waspada kepada apa yang akan Donghae katakan.

“Kau akan memilihku dan keluarga kita atau Kris?”

Bagai tersambar petir, Jessica menegang kaku di tempatnya, tak pernah ia kira bahwa Donghae akan menanyakan pertanyaan macam itu padanya.

“O..oppa...kau..”

“Pilih saja, Jessica...aku atau Kris.” desak Donghae.

Air mata Jessica mengucur dari sudut matanya. Kenapa Donghae harus membuat pertanyaan seperti itu? Kenapa ia harus memilih? Bukannya ia ingi serakah, tapi semua itu adalah hal sulit.

“Oppa...” Jessica menatap Donghae memohon.

“JAWAB SAJA JESSICA JUNG!!” Bentak Donghae. Untuk pertama kalinya Donghae membentak Jessica selama mereka berkeluarga. Dan Jessica paham sudah seberapa marah da kecewa Donghae padanya.

Namun Jessica hanya diam. ia tak mampu mengatakan apapun.

“Baiklah...aku akan memberimu waktu untuk menjawabnya.”

Setelah mengatakan bahwa ia akan memberi waktu untuk Jessica bsia menjawab pertanyaannya, Donghae meraih kunci mobil dan melangkah keluar dari rumah mereka.

Dan ketika suara pintu tertutup terdengar, Jessica meluruh di atas lantai dengan suara isak tangis yang terdengar menyayat hati.

....

Sungmin mengetahui keadaan ruamh tangga adiknya yang semakin di ujung tanduk. Baekhyun pun akhirnya tahu dengan keadaan orang tuanya.bocah kecil itu sedikit mengerti apa yang sednag terjadi dan ia memilih untuk bersama dengan ayahnya. Bahkan bocah kecil itu sama sekali tidak ingin bertemu dengan ibunya, Jessica.

Semua itu semakin memperkeruh keadaan yang terjadi. Sungmin akhirnya menengahi apa yang tengah terjadi untuk mendamaikan keadaan. Lagi pula, dampak dari semua yang sedang terjadi akan berakibat fatal bagi Baekhyun, dan untuk psikologis anak itu. Sungmin bahkan memaki dua orang tua itu untuk bisa berdamai entah itu berdamai untuk kembali bersama atau berdamai untuk tetap berpisah namun dengan cara baik-baik. semua itu untuk Baekhyun, anak itulah yang harusnya mereka pikirkan masa depannya jika ini terus berlarut.

....

  Tak pernah terkira sebelumnya, pernikahan yang sudah mereka jalani hingga usia Baekhyun, putra semata wayang mereka yang beranjak besar harus berakhir dengan seperti ini. Di dalam mobilnya, Jessica masih belum bisa berfikir jernih, semuanya membuatnya bingung.

Apa yang ia lakukan sudah benar?

Apa yang ia putuskan sudah tepat?

Sungguh, setiap melihat mata bulat putranya, maka yang akan ia dapati adalah kegoyahan dalam hatinya. Ia merasa belum siap, tapi setengah hatinya yang lain menginginkan Kris dan berada dalam pelukan pria itu yang masih senyaman dulu.

Jessica sekali lagi melihat secarik kertas yang diberikan oleh Sungmin, sebuah kertas yang berisikan alamat dimana nantinya ia dan Donghae akan menyelesaikan apa yang pernah mereka mulai dengan cara baik-baik. dan sementara ini Baekhyun akan ikut bersama pamannya itu berlibur, guna menghindari sesuatu yang buruk jika menimpa mental seorang anak kecil.

Hari ini pakaiannya hanya dress berwarna biru tua dengan mantel berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga yang tidak terlihat jelas. Rambut coklat gelombangnya terurai dengan rambut atasnya yang ia ikat agar terlihat lebih rapih.

Mulanya Kris hendak menemaninya kemari, tapi ia tidak ingin membuat semuanya semakin runyam dengan melibatkan Kris untuk masalah ini juga. Ini adalah antara dirinya dan Suaminya. Yang nantinya akan berubah menjadi manta suaminya. Dan dengan kesadarannya ia meringis mendengar otaknya berpikir demikian.

Ia hanya merasa belum siap. Tapi ia tidak bisa egois untuk memilih kedua pria itu dalam hidupnya.

Mobil Jessica berhenti di depan sebuah gerbang kayu yang tinggi, kemudian seorang penjaga keamanan datang dan menghampirinya.

“Anda, Nyonya Lee?” Tanya penjaga keamanan itu.

Jessica mengangguk meskipun ia mengernyit mendengar namanya yang memang masih bermarga Lee. Marga yang mengikuti merga milik keluarga Donghae.

“Tuan Lee Donghae sudah menunggu, silahkan masuk.”

Pintu gerbang terbuka dan Jessica kemudian melajukan mobilnya untuk masuk ke dalamnya. Dan ia disambut oleh pemandnagan yang luar biasa indah. bahkan sepertinya pemandangan yang dilewatinya sepenjang perjalanan tadi sudah terkalahkan dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Pepohonan yang rindang, pohon cemara yang berjejer dengan tinggi yang sama. Bermacam-macam bungan tersebar membentuk sekumpulan yang ia yakin akan sangat indah jika dilihat dari atas. Lalu kolam ikan dengan di tengahnya terdapat sebuah taman kecil dengan sebuah payung besar dan dibawahnya hanya rerumputan biasa. Sangat cocok untuk menggelar tikar diatas rumput itu dan melakukan kegiatan seperti piknik.

Tapi tunggu, ia seperti familiar dengan tempat ini.

Tapi bukankah ia bahkan baru pertama kali datang ke tempat indah ini?

Membuang pemikiran itu, Jessica segera turun dari mobilnya usai menyerah kunci mobilnya kepada pelayan  yang bersiaga di depan pintu sebuah rumah yang megah bernuansa putih. Jessica sejenak terpesona dan merasa sangat takjub melihatnya. Pintar sekali Sungmin memlilih tempat seindah ini. Seandainya ini adalah rumahnya.

Jessica terkesiap dan sadar dari keterkagumannya ketika pintu yang berada di hadapannya terbuka lebar dan menampakan sosok seseorang yang sudah beberapa waktu ini tidak di temuinya. Seseorang yang dengan jelas masih terikat padanya. dan masih menempati posisi penting dalam hidupnya. Bahkan jari manis tangan kanannya masih melekat sebuah benda tanda cinta kasih mereka.

Tuhan... setelah mata mereka bertemu ternyata ia baru merasakan rasa rindu yang begitu membuncah hebat.

Ia merindukan Donghae, Suaminya.


*STROM*GORJESSO*


Dengan hati yang resah, Donghae sudah sejak kemarin malam tidak bisa memfokuskan pikirannya pada suatu apapun. Ia bahkan tidak bisa menelan sesuatu sejak kemarin, dan hanya segelas susu, itupun kemarin pagi karena paksaan istri Sungmin. Selain itu tenggorokannya seolah menolak untuk menelan apapun kedalam tubuhnya. Tubuh yang sudah terlalu bekerja keras ikut memikirkan rumah tangganya yang sudah berada di ambang jurang perceraian.

Saat ia beranjak dari ranjangnya tadi pagi, Donghae di hadapkan oleh jam yanng berada di kamarnya menunjukan pukul 6 pagi, 3 jam lagi akan menunjukan waktu pertemuannya dengan Jessica yang sudah ia atur bersama Sungmin. Dan dadanya berdebar dengan keras setiap mengingat hal itu.

Jelas ia merasa kecewa dan sangat sakit hati. Tapi apa daya jika ternyata perjuangannya untuk tetap mengukuhkan rumah tangga mereka hanya bisa sampai disini. Karena pada kenyataannya hanya ia yang berjuang sendirian, ah tidak... putra mereka yang bahkan seharusnya belum mengerti juga ikut memperjuangkan Jessica agar tetap berada di sisi mereka.

Namun jika memang sudah tidak bisa di pertahankan lagi, dan melihat bagaimana Kris bisa membuat Jessica bahagia. Maka ia tidak bia memaksakan apapun. Atau malah itu akan menyakiti Jessica.

“Tuan, Nyonya sudah berada di depan.” Ucap seorang pelayan yang berdiri di belakangnya yang sedang melihat pemandangan taman belakang rumah.

Dengan jantung yang berdentum keras, langkah Donghae tidak bisa di bilang tegap. Justru sekarang ia merasakan kerapuhan itu merayapi tubuhnya. Sekalipun ia pria, tapi ketika tulang rusuknya diambil apakah ia masih bisa berdiri tegap tanpa kesakitan?

Tidak, jawabannya tentu tidak.

Perih itu bahkan di tahannya mati-matian saat sekarang ia dihadapkan dengan pintu rumah yang berdiri kokoh menjadi pembatas antara dirinya dengan Jessica, istrinya yang begitu ia rindukan. Bahkan amat sangat ia rindukan. Demi Tuhan... bumi pun tak akan mampu menampung limpahan rindunya itu.

Tangannya terulur menyentuh kenop pintu, kini tangannya juga ikut bergetar menyambut istrinya. Donghae mencoba merilexkan tubuhnya dan menghela nafas pelan-pelan, kemudian ketika dirinya mulai bisa bersiap, ia memutar kenop pintu itu dan membuka pelan-pelan pintu yang berdiri kokoh dihadapannya.

CKLEKK

Saat moment itu, Donghae merasa oksigen mendadak hilang dari sekelilingnya. Nafasnya terasa tercekat di tenggorokan, ketika melihat seorang yang selama ini dicintainya berdiri setelah lama tidak bertemu. Perlahan, ujung bibirnya terangkat secara naluriah. Menyambut cintanya, walau saat itu juga ia harus sadar bahwa wanita dihadapannya ini bukan untuknya lagi. Sekejap, ia merasa hatinya teriris perih dibalik senyumannya.

“Kau sudah tiba?” Tanya Donghae dengan nada canggung yang tak bisa ia kontrol. Bibirnya terasa sangat kaku saat ini.

Jessica yang berdiri di depan Donghae pun sepertinya di lingkupi aura yang sama, canggung. Wanita itu terlihat salah tingkah.

“Y-ya. Semoga aku datang tepat waktu.” Jawab Jessica sama canggungnya. Bahkan sampai terbata.

Donghae meringis karena menyadari seolah dirinya dan istrinya sendiri sekarang sudah berjarak walau nyatanya mereka berdiri berhadapan. Tapi seolah jarak ribuan kilo meter membentang diantara mereka.

Donghae tersadar dari lamunannya dan tersadar belum mepersilahkan Jessica masuk.

“Ah, kalau begitu silahkan masuk.” Donghae bergeser dan membuka pintu lebih lebar untuk mempersilahkan Jessica masuk, kemudian ia menutup pintu dan menyuruh seorang pelayan yang ada di belakangnya tadi agar mengosongkan rumah ini selain dirinya dan Jessica tentunya.


Jessica berjalan memasuki rumah tempat yang akan menjadi saksi perpisahannya dengan Donghae. Memperhatikan kesekelilingnya yang terlihat indah dan rapih walau perabotannya masih tercium bau kayu yang jelas masih baru. Dan lagi-lagi ia merasa familiar kepada rumah ini, dan sekali lagi pula ia yakin jika ia belum pernah kemari.

Donghae berjalan di belakang Jessica dan ikut berhenti ketika Jessica menghentikan langkahnya di dekat sofa putih yang letaknya berada di ruang tamu.

“Silahkan duduk.” Ucap Donghae, matanya terus memperhatikan istrinya yang menurutinya duduk. “Kau ingin minum apa?”

“Emm...apapun, asal dingin.”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Donghae menghilang di balik tembok yang membatasi antara ruang tamu degan ruang yang Jessica belum tahu dibaliknya ada ruangan apa. Dan Jessica penasaran akan hal itu.

Menuruti instingnya, Jessica bangkit dari sofa yang di dudukinya dan berjalan menuju ruangan yang bersebelahan dengan ruang tamu. Bukan bermaksud untuk lancang, tapi sekrang ini rasa penasarannya benar-benar mendominasi.

“Daebak!” Gumam Jessica merasa takjub ketika ia bisa melihat ruangan yang berada di balik tembok Donghae menghilang tadi.

Di sana terdapat ruang keluarga yang didominasi oleh wana putih, dan perabotan yang berwarna kuning dan hijau muda, serta aksen warna biru dari hiasan kaca. Di sebelah kiri terdapat ruang tv yang di lengkapi dengan home teather berwarna putih juga, di sebelah kanannya ada karpet yang terbentang dengan tembok yang ditutupi oleh rak buku berwarna putih yang masih belum sepenuhnya terisi oleh buku, karpet itu berwarna hijau dan motif berwarna kuning namun tidak mendominasi.

Sungguh sangat indah untuk dilihat, batin Jessica. Dan dari sana ia menemukan satu hal yang ia yakini sekarang bahwa ia sadar jika rasa familiar yang sejak tadi di rasakannya adalah karena—

“Kenapa kau berdiri di situ, Jessica?”

Suara Donghae membangunkan Jessica dari lamunannya. Pria itu berdiri beberapa langkah dari dirinya dengan alis yang terangkat penuh tanya serta nampan berisi segelas jus jeruk.

“A—Ah, itu..aku hanya penasaran dengan rumah ini.” Jessica mengerjap salah tingkah dan merasa bersalah karena ketahuan bertindak lancang. “Maafkan aku karena sudah melihat sejauh ini. sekali lagi maaf.”

Donghae tersenyum geli melihat tingkah Jessica yang seperti ketahuan mencuri. Untuk apa ia minta maaf, padahal jika Jessica tahu tentang rumah ini, Donghae yakin Jessica pasti akan lebih dari sekedar merasa takjub. Sayangnya Donghae sudah terlambat untuk memberitahukan rumah ini pada Jessica.

“Gwenchana.” Ucap Donghae menenangkan. Dan itu membuat Jessica membalas senyum Donghae lalu menghembuskan nafas lega.

“Apa kau ingin kita berbicara di sini?” Tanya Donghae, menawari Jessica yang sepertinya enggan beranjak dari ruangan dimana mereka berdiri sekarang.

Jessica mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar penawaran Donghae. Tentu saja ia mau! “Jinja? Bolehkah?”

Donghae hampir saja tertawa melihat Jessica yang begitu antusias menyambut penawarannya. Ia lantas mengangguk dan mengisyaratkan Jessica untuk mengikutinya menuju ruang tv. Sepertinya tempat ini terlihat lebih santai untuk membicarakan permasalahan rumah tangga mereka.

Yeah... walau ia sama sekali tidak bisa santai saat ini. bahkan saat ia memegang nampan pun beberapa kali harus kelihangan fokus dan hampir menjatuhkan isinya.

“Duduklah.”

Jessica mengangguk dan duduk di atas sofa panjang yang sangat lembut ketika kulitnya beradu dengan pelapis sofa berwarna kuning itu.

Donghae meletakan segelas jus jeruk tadi diatas meja di depan sofa dan ia ikut duduk disana, tepatnya di samping Jessica yang kini nampak canggung kembali.

Beberapa menit mereka terjebak dalam keheningan, Jessica berkali-kali menghela nafas gusar guna mengusir gugup dan matanya selalu menghindari untuk melihat Donghae. Sedangkan pria itu sama juga dengan Jessica, terlihat gelisah namun juga sesekali ekor mata Donghae melirik pada Jessica, menangkap kecanggungan istrinya itu.

“Bagaimana kabarmu?” Satu pertanyaan tercetus dari bibir Donghae dan itu dapat membantu untuk menghancurkan keheningan yang tertalu lama melingkupi mereka.

Jessica menoleh kepada Donghae dan mendapati pria itu juga tengah menatapnya. Ia tersenyum dan kemudian menjawab pertanyaan Donghae. “Baik. Kau sendiri?”

Donghae memutuskan kontak matanya ketika mendengar pertanyaan balik Jessica. Bagaimana kabarmu, Donghae? Tanyanya dalam hati.

Donghae tersenyum miris mendengar batinnya malah menjawab seolah ingin menjerit bahwa ia tengah kesakitan saat ini. Tapi tentu ia tidak boleh sembarangan menyuarakan isi hatinya.

“Entahlah.” Jawab Donghae seraya mengedikan bahunya.

Dan Jessica menangkap gestur itu sebagai rasa... sedih? Bertahun-tahun hidup bersama Donghae, tentu ia tahu setiap gerak-gerik suaminya. Tatapan pria itu juga dnegan jelas menggambarkan rasa kecewa, sakit, dan kesepian.

Demi Tuhan Jess... kau tahu perasaan suamimu tapi kau tidak segera membawanya ke pelukanmu?

Ia sangat ingin, tapi ia harus tetap teguh dengan keputusannya, jangan bimbang dan akhirnya menyakiti orang lain lagi.

Tapi kau menyakiti suamimu sendiri, bukan orang lain! Batin Jessica berteriak.

Jessica tersenyum kecut mendengar batinnya berteriak saling berperang.

“Emm...Kita, bagaimana dengan... emm...maksudku—“

“Perceraian kita?” Potong Donghae.

Jessica menatap Donghae dengan rasa bersalah dan juga perasaan sakit ketika mendengar kata itu akhirnya terucap diantara mereka. Mendengar kata cerai dari bibir DOnghae ternyata sangat menyakitkan.

“Kita akan membicarakannya sekarang.” Ujar Donghae dengan nada pelan yang mengiris hati. Suara yang sudah ia redam mengingat betapa remuk hatinya saat ini. beruntunglah bukan suara kesakitan yang keluar dari bibirnya.

Jessica menatap suaminya dengan mata yang kini diselubungi oleh air mata. Ia sudah berusaha untuk tidak menangis, namun nyatanya tidak bisa. Rasa sakit di hatinya kembali membuat seluruh badannya ngilu. Memikirkan ia akan berpisah dengan Donghae sungguh seperti sebuah mimpi buruk, tapi nyatanya dirinya sendri lah yang mendatangkan mimpi buruk itu kedalam hidupnya.

“Oppa...” Lirih Jessica. Tangannya perlahan terangkat untuk menyentuh sisi wajah Donghae yang kuyu. Prianya ini semakin kurus dan rambut di dagu pria itu mulai tumbuh tidak dirawat. Dulu...ia lah yang akan rutin mencukur rambut di sekitar dagu Donghae serta kumisnya.

Donghae memejamkan matanya menikmati usapan tangan halus Jessica di wajahnya. Ya Tuhan...ia merindukan sentuhan ini. I amerindukan bagaimana setiap pagi Jessica membangunkannya dengan cara mengusap wajahnya seperti ini. tapi sekarang, jangankan mendapat sentuhan seperti ini, melihat wajah itu tidur di sampingnya pun rasanya sudah mustahil. Sudah tidak mungkin lagi.

“Sudah 2 minggu aku tidak bercukur...aku lupa...” Ujar Donghae, matanya kini terbuka dengan menatap Jessica yang maish mengusap wajahnya dengan airmata yang mengalir di wajah cantiknya.

“Maaf...” Hanya suara tercekat itu yang keluar dari tenggorokan Jessica. suara penuh rasa bersalah.

“Aku juga selalu lupa menaruh baju kotorku, sekarang kamar kita sangat berantakan.” Adu Donghae, menceritakan bagaimana dirinya selama dua minggu ini menempati kamarnya. Kamrnya dan Jessica. sayangnya sekarang tidak lagi.

“Bukankah ada ahjumma di sana? Kenapa dibiarkan berantakan?” Tanya Jessica emrasa heran.

Donghae menunduk dan memainkan jarinya, mati-matian menahan tangisnya. Ia bukan soal harga diri lelaki yang akan hancur jika menangis di depan wanita. Lebih dari itu, ia tidak ingin membuat Jessica semakin merasa bersalah. Ia tidak ignin membuat Jessica semakin sedih.

“Aku...aku hanya tidak ingin semua yang sebelumnya di tata olehmu di sentuh orang lain...aku tidak ingin orang lain menggeser atau merapikan apa yang dulu pernah di sentuh olehmu.. dan aku tidak ingin mereka menyentuh bantal dan juga sprei dimana disana masih ada aroma tubuhmu. Aku hanya...aku—“

Belum Donghae menyelesaikan kalimatnya. Jessica langsung menarik tubuh Donghae ke pelukannya. Menangis di bahu Donghae yang saat ini menegang karena mendapat pelukan tiba-tiba dari Jessica. namun bukan menjadi rilex, pelukan itu justru membuat Donghae bergetar lalu ikut menangis bersama Jessica.

“Jangan pergi....Jangan pergi, sayang....jangan...” Gumam Donghae di sela rambut jessica. tangannya semakin erat memeluk tubuh mungil itu. hingga rasanya bisa untuk menghalau siapapun yang ingin merebut tubuh mungil itu dari pelukannya, dari dunianya yang saat ini tengah kebingungan mencari mata angin untuk bisa stabil kembali.

“Jangan pergi sayang....jangan...” Gumaman Donghae semakin membuat tangis Jessica pecah. Rasa bersalah itu merayap memenuhi dadanya dan membuatnya sesak seketika.

Ia hanya mampu menangis bersama suaminya, suami yang ia cintai. Mendengar pria itu terus melarangnya pergi dan mengajaknya untuk tetap bersamanya dan hanya kematian yang boleh memisahkan mereka.

“Jika kita saling mencintai.... Kenapa kita harus berpisah?”

Airmata Jessica semakin jatuh deras di kedua pipinya. Ya.... jika mereka saling mencintai, kenapa mereka harus berpisah?

“Mianhe...mianhe...”

“Jangan meminta maaf, jika nantinya kau akan pergi...” Donghae mengguncangkan bahu Jessica. Airmatanya sudah sedari tadi jatuh deras seperti milik istrinya. Ia bahkan kesulitan bernafas karena sedang berlomba dengan isak tangisnya.

“Tetaplah disisiku.” Pinta Donghae lirih dan putus asa. “Aku berjanji...aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku dan membuatmu bahagia!”

Jessica menggeleng keras dan menatap Donghae dengan penuh rasa bersalah. Tangannya terulur mengusap airmata Donghae kemudian mengusap pipi suaminya yang basah.

“Jangan merendahkan dirimu, oppa... Kau tidak memeliki kesalahan apapun... sama sekali tidak. Aku—“ Ucapan Jessica tersendat oleh tangisnya. Memikirkan mereka akhirnya berpisah setelah dulu mereka juga pernah berada pada posisi ini membuat Jessica sangat bersalah.

“Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku sudah menyakitimu, oppa... aku yang menyakitimu..” Ujar Jessica.

kini tangannya menangkup wajah Donghae. Dan menarik wajah itu untuk mendekat pada dirinya. Lalu ia menutup matanya dan menyentuhkan bibirnya pada bibir Donghae yang sama-sama bergetar karena menahan tangis.

Entah bagaimana semua ini bisa terjadi. Ciuman diujung cerita mereka. rasa sakit, kecewa, bersalah, rindu, dan bahkan cinta yang masih menggebu bergelung menjadi satu. Donghae  mengamit pinggang Jessica untuk mendekat padanya dan semakin memperdalam ciuman mereka. ciuman yang terasa asin karena airmata berada diantara mereka.

Jessica berpegangan erat pada leher Donghae. Rasanya sekarang ia sungguh tidak bisa berdiri dengan benar. Ia tidak tahu harus bagaimana setelah mereka melepaskan diri masing-masing nanti. Yang jelas, sekarang ia ingin terus berada di pelukan suaminya yang selalu hangat bahkan setelah ia menyakiti suaminya. Ia pasti akan merindukan pelukan ini, rumah yang paling nyaman selama beberapa tahun ini. pelukan yang terus melindungi dan memberikan kenyamanan serta rasa bahagia.

Lantas kenapa kau melepasnya?

Jessica juga tidak tahu. Ia hanya terlalu bingung, hatinya terombang-ambing. Terbagi dua antara Donghae dan Kris yang sama-sama menempati posisi penting dalam hidupnya.

“Jika memang kita harus berpisah. Bolehkah malam ini saja, aku masih menjadi suamimu dan masih berhak memilikimu?” Pinta Donghae.

Jessica menatap nanar pada Donghae yang menatapnya dengan penuh harap sekaligus putus asa. Dan untuk menyanggupi permintaan suaminya, Jessica mengukir senyum tulus dan menganggukan kepalanya. Senyum yang menular juga pada Donghae.

Gomawo..” Ucap Donghae. Tangannya terulur untuk meraih surai coklat istrinya dan menyelipkan di belakang terlinga. Jemarinya kini berpindah menuju pipi istrinya. Mengusapnya dengan lembut dan penuh perasaan.

Mata mereka saling bertatapan, masih dengan saling menyunggingkan senyuman tulus. Masih juga saling berpelukan. Donghae menatap intens Jessica, mencoba menyampaikan betapa ia menyayangi dan mencintai istrinya itu dengan sepenuh jiwa dan raganya.

“Sayang... Aku mencintaimu... Sungguh, sungguh mencintaimu. Aku selalu berharap dalam hidupku. Kau adalah seseorang yang akan menemani diriku dalam derasnya waktu. Membesarkan putra kita. Dan menemani cucu-cucu kita bermain dan sampai pada saatnya kita menjadi tua dan berpisah karena Tuhan yang memanggil kita. Namun jika memang ini yang harus menjadi jalan kita...aku hanya bisa berkata bahwa aku mencintaimu, dari dulu, sekarang, dan sampai di masa depan nanti. Jika memang juga tidak ada kesempatan untukku lagi untuk bersamamu... Maka biarkanlah aku mencintaimu lewat putra kita yang memiliki setengah dari tubuhmu. Dan jika—“

“Oppa..” Lirih Jessica, memotong perkataan panjang Donghae yang juga menyayat hatinya. Mereka menangis bersama sekarang.

Donghae menggeleng protes. Ia belum selesai bicara. Jarinnya mengusap airmata di pipi Jessica. “Dan jika... kau mengizinkan aku berharap... satu harapanku adalah kau akan kembali ke dalam pelukanku seperti ini dan biarkanlah aku yang akan terus menjadi rumah untukmu berlindung dari dunia yang kejam ini. Jangan pernah berpaling pada yang lain lagi jika kau merasa lelah, lihatlah aku yang akan terus berdiri di belakangmu. Mencintaimu dan akan menjadi sayap ketika kau jatuh. Hanya aku sayang.... hanya aku....”

Bibir Jessica bergetar mendengar perkataan Donghae yang menunjukan betapa pria ini masih menginginkan dirinya yang sudah terlalu menyakiti Donghae untuk kembali di sisi pria itu.

“Ingatlah pesanku ini, sayang...Pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu....Kau mengerti?”

Sembari mengusap airmata di pipi Donghae, Jessica mengangguk dan tersenyum mengerti akan pesan pria di hadapannya ini.

“Aku berjanji akan selalu mengingatnya...Oppa bisa memegang janjiku.” Ucap Jessica berjanji.

Donghae mengecup kening Jessica selama beberapa saat kemudian berucap di depan kening indah istrinya itu. “Terimakasih.”

Kecupan itu berganti pada kedua mata istrinya. Lalu dua pippi merona milik Jessica yang semakin membuatnya tidak rela melepas istrinya itu. Dan kemudian bibir tipis berwarna pink chery milik Jessica. Dunia Donghae semakin terguncang ketika beberapa pikiran menghantam otaknya. Bibir ini... apakah ia tak akan lagi bisa menyecapnya? Bukankah ini miliknya?

“Maafkan aku, oppa...maaf..”lirih Jessica disela ciuman Donghae padanya.

“Jangan meminta maaf sayang...”

Kemudian Donghae melanjutkan kembali ciumannya. Meluapkan segala emosi yang tertanam di dalam tubuhnya. Ciuman yang semakin dalam itu kemudian berlanjut untuk saling mengklaim diri masing masing. Untuk melepas sejenak permasalahan diantara mereka.

“Apa setelah ini kita akan benar-benar berakhir?” Tanya Donghae dengan penuh harap dimatanya untuk Jessica berkata tidak namun nyatanya Jessica malah mengangguk, mengiyakan pertanyaannya. Dan sebelum Jessica mengucapkan kata itu, Donghae kembali meraih bibir Jessica untuk diciumnya.

Jika memang setelah ini meraka harus berakhir, maka biarkanlah dirinya melewatkan satu malam saja untuk memiliki Jessica seutuhnya sebelum dirinya melepas kepemilikannya pada Jessica.


=Strom | Gorjesso=


Kris terbangun saat dirinya merasakan usapan lembut di pipinya. Satu yang ia pikirkan saat itu adalah mungkin itu hanya perasaannya saja, karena mana mungkin ada seseorang yang bisa masuk ke dalam apartemennya dan melakukan hal yang ia rasakan ini...

Kecuali—

Seketika ia membuka matanya dan melihat seseorang yang seharian kemarin membuatnya uring-uringan.

“Kau terlihat terkejut mendapatiku disini.” Ujar Jessica dengan senyum jahil lalu menarik hidung lancip Kris yang seketika membuat pria itu mengaduh kesakitan.

“Bangun, pemalas!” Perintah Jessica lalu hendak beranjak dari tepian ranjang Kris namun di tahan oleh cekalan pria itu di tangannya.

Jessica menatap tangannya yang di tahan lalu mendongak dan bertatapan dengan dua bola mata Kris yang kini tengah menuntut banyak jawaban darinya.

“Duduklah sebentar.”

Jessica mengikuti ucapan Kris dan duduk di tempatnya tadi.

“Wae?” Tanya Jessica

“Bagaimana?” Tanya Kris yang membuat Jessica mengernyit tidak paham.

“Kau tahu maksudku, Sica. Jangan berpura-pura.” Kata Kris yang ingin meminta kejelasan pada Jessica.

Punggung Jessica sedikit menegang. Ia memang tahu maksud dari pertanyaan Kris. tetapi tadinya ia ingin sedikit menghindari semua hal tentang yang kemarin terjadi antara dirinya dan Donghae. Namun keputusannya untuk kembali ke rumah Kris setelah ia menginap di rumah Donghae tentu menjadi pilihan yang tidak tepat. Mau tidak mau jika sudah begini tentu ia harus menjelaskan pada Kris. Karena ini memang terkait tentang hubungan mereka bertiga, dirinya, Donghae, dan Kris.

“Sica...” Tegur Kris saat Jessica tak kunjung memberikan respon.

Jessica menoleh pada Kris yang menatapnya penuh harap. Dahi pria itu berkerut tanda tengah berpikir keras. Ia kemudian menghela nafas dengan kasar, berharap semoga saja bebannya sedkit berkurang, namun nyatanya tidak ber efek apapun. Kini kepalanya justru menjadi semakin pening.

“A—Aku...bisakah kita bicarakan ini nanti?” Tanya Jessica mencoba melobi Kris.

“Kenapa harus nanti jika aku sduah di hadapanmu dan siap untuk mendengarkan.” Ujar Kris, memberi jawaban yang bertolak belakang dengan keinginan Jessica.

“Karena aku yang belum siap.” Kata Jessica lalu menunduk sedih. Kepalanya terasa berat saat ini walau hanya untuk mengangkat dan menatap Kris yang tadi sempat ia lihat tersenyum namun menyiratkan luka dan kecewa.

“Apa kau menunda untuk memberitahuku karena.... kau akan meninggalkanku?”

“Tidak!” Sanggah Jessica cepat. Ia merasakan pening yang teramat karena gerakan kepalanya yang terlalu cepat untuk menatap Kris kembali. Ia sungguh tidak ingin Kris salah paham maka dari itu ia tidak menyadari gerakan reflek nya yang mengakibatkan dirinya seperti ingin mati saja dari pada menahan pening di kepalanya.

Rahang Kris terlihat mengetat tanda pria itu marah. Matanya menatap tajam pada Jessica namun ada kilat kesedihan dan kekecewaan juga disana.

“Lalu kenapa.... kenapa harus menundanya Jessica? Kau hanya harus memberitahuku tentang keputusanmu dengan Donghae. Itu saja.” Ujar kris dengan nada suara yang benar-benar untuk menjaga emosinya yang bisa melesat dan akhirnya meledak saat itu juga.

Jessica menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu mengapa harus menundanya. Walau kenyataannya ia sudah menggenggam jawaban dari kisah cinta segitiga mereka. Keputusan yang sudah dirundingkan bersama Donghae pula. Keputusan terberat yang pernah diambilnya selama ia hidup sebagai seorang Jessica Jung.

“Atau kau menundanya karena belum memutuskan apapun tentang kami?” Tanya Kris lagi. Kini pria itu berjalan menjauh dari Jessica dan memilih untuk berdiri di depan jendela besar kamarnya yang menyuguhkan pemandangan elok di pagi hari.

“Sungguh Kris... ini bukan semua yang ada di kepalamu. Percayalah padaku. Aku hanya belum siap... Aku terlalu lelah memikirkan semua ini.” Jelas Jessica, walalu tetap tidak memberikan penjelasan yang diminta oleh Kris.

Kris masih berdiri dan memejamkan matanya. Ia memegangi pelipisnya yang juga terasa sakit karena semalaman kemarin juga ia berpikir keras mengenai hal ini.

“Jadi....bisakah kita berbicara nanti?” Tanya Jessica lagi. Saat ini ia benar-benar butuh istirahat. Ia ingin segera sampai di rumah ayahnya dan tidur seharian tanpa memikirkan apapun.

“Baiklah.” Putus Kris akhirnya karena melihat Jessica yang sepertinya butuh waktu untuk memberitahukan semuanya. “Maaf sudah memaksamu, sayang...”

Kris mendekati Jessica yang sudah berdiri di tengah ruang kamarnya dan membawa wanita itu kedalam pelukannya. “Maaf, aku hanya terlalu takut kehilanganmu..”

Jessica tersenyum di dalam pelukan Kris sembari masih menahan rasa peningnya. “Ya... aku juga minta maaf...aku benar-benar butuh waktu untuk semua ini Kris...”

Kris mengangguk di puncak kepala Jessica. “Aku akan menunggu.”

“Aku janji besok akan memberitahumu.” Ucap Jessica saat Kris sudah melepaskan pelukannya.

Kris tersenyum, menyetujui. “Kapanpun asal itu adalah berita baik untukku.”

Jessica tidak menyahuti lagi ucapan Kris, ia lebih memilih untuk membalikan badan usai melambaikan tangan pada pria itu. Ia tidak jadi membuat sarapan untuk Kris, dan pria itu juga pasti tahu alasannya, dan kemana ia pergi saat ini.

“Hati-hati di jalan, sayang..”

Jessica hanya tersenyum dan berlalu pergi. Namun baru saja ia membuka pintu kamar Kris, saat itu kedua kakinya terasa sangat lemas. Dan ia pun memegangi kepalanya yang terasa semakin berat. Ia masih mencoba untuk bertahan dengan tetap melangkah keluar walau semua hal itu di tangkap oleh penglihatan Kris dan membuat pria itu melihatnya khawatir.

“Kau baik-baik saja, sayang?” Tanya Kris khawatir dan dengan panik langsung menghampiri Jessica.
Namun Jessica mengangkat tangannya sebagai isyarat bahwa ia baik-baik saja dan menyuruh Kris untuk dia di tempatnya. Walau Kris merasa khawatir, tapi ia tetap menuruti Jessica dan terus melihat punggung kecil itu hilang dari pandangannya.

STROM—Gorjesso

Jessica memijat pelipisnya dengan kuat. Rasa pening tiba-tiba menyerangnya sejak pagi. namun siang ini rasa pening itu menjadi semakin kuat. Dan ia adalah salah satu menusia dengan curahan keberuntungan hari ini. dengan keadaan yang sama sekali jauh dari kata baik. ia bisa menyetir dan sampai di salah satu klinik temannya di daerah gangnam. Sebuah klinik kecantikan sebenarnya, tapi setidaknya temannya itu juga pernah menjadi dokter umum dirumah sakit.

Ia berjalan terhuyung dan ia mendapati pandangannya menjadi kabur sekarang. Oh, tidak...ia rasa ia akan tumbang sebentar lagi. Dan benar, setelah beberapa detik ia berpikir demikian, ia sudah jatuh di depan pintu masuk klinik temanya.

“Astaga, Jessica!”

Itu yang terakhir Jessica dengar sebelum semuanya menjadi gelap dan ia tak sadarkan diri.


Pandangan Jessica masih kabur saat ia membuka matanya. Ia menoleh ke kiri dan mendapati seorang perempuan dnegan baju kebesaran dokter. Kang Minkyung, temannya itu tersenyum menatap dirinya.

“You are crazy, Jess!” Umpat temannya itu namun dnegan senyuman lebar. Umpatan itu jelas hanya sebuah candaan.

Jessica hanya tersenyum, ia masih merasa tubuhnya sangat lemah, bahkan untuk sekadar berbicara.

“Baiklah nona Jung...kau sekarang terbaring di kamar di dalam ruangan pribadiku. Dengan botol infus yang memberimu cairan agar tubuhmu pulih dalam beberapa jam lagi.” Kata MInkyung seraya mengecek botol infus yang tergantung di tiang sebelah ranjang tempat Jessica berbaring.

Jessica mengangkat tangan kirinya, melihat jarum dan perban yang melilit jarum itu. Ia lalu mendesah nafas merasa aneh dengan dirinya sendiri yang bisa tumbang seperti ini. ini untuk pertama kalinya ia tumbang sejak ia tidak berprofesi sebagai model lagi. Yeah...itu sudah lebih dari 7 tahun. Saat menjadi model dulu, ia bisa minimal 2 kali masuk rumah sakit karena harus dirawat setelah banyak melakukan aktifitas yang menguras tenaganya.

“So?”

Jessica menoleh pada Minkyung yang saat ini duduk di samping ranjang dan memandangnya dengan tanda tanya yang terlihat jelas di keningnya.

“Mwo?” Tanya Jessica. ia juga tidak tahu apa yang hendak ia katakan.

Minkyung menghela nafasnya dan menatap Jessica intens. Berbicara dengan Jessica sama saja dengan sia-sia. Meskipun Jessica terlihat seperti orang yang ramah saat ini, Jessica tetaplah menjadi Jessica yang selalu bersikap defensif kepada orang yang tidak bisa dipercaya menurutnya. Minkyung memang salah satu teman baik Jessica selain Sungmin, namun Jessica sendiri memang jarang sekali bercerita tentang masalahnya jika tidak dipaksa atau bukan karena hal yang mendesak. Jessica terlalu keras kepala.

“Kau tidak mau bercerita?” Tanya Minkyung, langsung pada pointnya.

Jessica tersneyum lemah. Menatap dengan pandangan—Aku-masih-belum-bisa-bercerita—kepada Minkyung.

“Ini untuk pertama kalinya setelah sekian tahun kau sakit hinga mendapat donor cairan ‘kan?” Tanya Minkyung lagi, masih mencoba membujuk. “Aku yakin ada beberapa hal yang membuatnmu seperti ini. Tell me what...and i will tell you something happend to you.”

Kening Jessica mengernyit mendengar kalimat Minkyung. “Something happend to me? What was that?” 

Minkyung mengedikan bahunya. “Tell me what...and i will tell you something happend to you.” Katanya mengulang kalimatnya yang tadi. Membuat Jessica penasaran karena yang berhubungan dnegan Minkyung tentu adalah masalah kesehatan, jadi apa yang terjadi padanya? Sesuatu apa?

“Just tell me what you know Minkyung..” Ujar Jessica. Ia masih belum bisa menceritakan masalahnya. Masalah rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk.

Minkyung sekali lagi menatap Jessica, tapi perempuan di hadapannya ini sepertinya tidak akan buka mulut dna menceritakan apa yang sednag terjadi.

“Okey... You are preggo.” Ujar Minkyung pada akhirnya.

Jessica mematung di tempatnya. “Mwo?”

“Kau hamil, Jessie...6 minggu.” Minkyung berkata lagi dengan menatap mata Jessica yang saat ini menatapnya namun pncaran dalam mata itu ksoong dan menyiratkan keterkejutan luar biasa. Dan Minkyung sama sekali tidak bisa menebak apa arti dari semua ekspresi yang Jessica keluarkan saat ia menyatakan informasi tentang kehamilan Jessica.

Jessica menggelengkan kepalanya, menyadarkan dari banyak pikiran yang lantas menyerbu otaknya secara bersamaan saat ia tahu ia hamil. Ia menunduk dan memainkan tangannya yang ada di pangkuannya.

“You kidding, me?” Tanya Jessica memastikan lagi dan ia menddapat jawaban pasti dari anggukan Minkyung.

“Why? You look...not happy?”

Jessica mendongakan kepalanya dan menggelengkan kepalanya. “I’m happy. So much. But...” Jessica memejamkan matanya, ia tidak kuasa untuk melanjutkan kalimatnya. Ia ingin menangis sekarang.

Minkyung mendekat pada Jessica, menggenggam kedua tangan temannya itu. “I’am Your friend...believe me... kau bisa menceritakan semuanya. Dan mungkin itu bisa membuatmu tenang. Karena sekarang kandunganmu lemah, kau banyak pikiran...itu jelas berdampak langsung pada janinmu. Ia kekurangan nutrisi, cairan... kau bisa membunuhnya jika seperti ini terus.” Jelas Minkyung, walau secara halus kalimat Minkyung tentu bertujuan memaki Jessica karena tidak menjaga bayinya.

“Aku baru tahu dia ada, Kyung-ah... Dan dia ada disaat rumah tangga kami sudah di ujung tanduk.” Ujar Jessica. menatap Minkyung yang langsung membulatkan matanya mendengar apa yang baru saja dikatakan olehnya.

Minkyung menunduk sekejap kemudian ia memandangi raut wajah Jessica yang nampak frustasi dan menyimpan kesedihan yang mendalam. “Ka—kau dan Donghae sunbaenim ...Kalian akan bercerai?”

Jessica menganguk lalu menghela nafasnya berat. “Ya.” Akunya.

“Wae? Bukankah selama ini kalian terlihat baik-baik saja? Apalagi setelah adanya Baekhyun. Ku lihat kalian semakin saling mencintai...lalu...lalu kenapa sekarang kalian ingin bercerai?”

 Jessica menoleh pada Minkyung. Matanya mulai berkaca-kaca. Perasaannya kini bercampur aduk. Mendengar berita tentang kehamilannya, jessica merasa senang bukan main. Ini kehamilan tak terduga namun pernah ditunggu oleh Jessica dan Donghae, tentu sebelum adanya badai dalam rumah tangga mereka seperti sekarang. Namun selain merasa senang, Jessica justru merasa takut, dan rasa takut itu mendominasi ruang dalam hatinya hingga ia merasa sesak sendiri sekarang. Ia takut...ia takut apa yang akan etrjadi setelah ini. setelah kehamilannya diketahui oleh Kris ataupun Donghae.

“Kris...dia kembali.” Cicit Jessica. Dengan kalimat itu Minkyung sudah paham dengan apa yang terjadi selanjutnya, hingga Jessica dan DOnghae akan bercerai.

“Kapan?” Tanya Minkyung dengan suara tercekat. Ia terkejut mendengar tentang kembalinya Kris.

“Beberapa bulan yang lalu.” Jawab Jessica kini dengan airmata yang mengalir di pipinya.

“Dan kalian kembali bersama? Begitu? Ini yang membuat rumahtanggamu berada diujung tanduk?” Tanya Minkyung lagi, suaranya terdengar menyimpan emosi yang ditahan.

Jessica hanya bisa mengangguk. Dan merasa bersalah saat melihat sorot kekecewaan dari dua bola mata Minkyung.


STROM—Gorjesso


Saat ini Jessica berada diatas ranjang di salah satu kamar yang ada di appartemen Minkyung. Gadis itu, walau terlihat sangat marah sekaligus kecewa padanya, tidak serta merta untuk mengabaikan kesehatan Jessica dan bayi yang dikandungnya. Mereka saat ini berada dalam keadaan yang lemah. Dan Minkyung mengambil inisiatif untuk merawat ibu dan bayi itu dirumahnya saja. Mereka butuh istirahat total selama beberapa hari, bed rest.

Jessica sangat berterimakasih untuk semua yang minkyung lakukan. Setidaknya, dengan cara ini pula, ia mampu menghindari Donghae, Sungmin, dan Kris. Namun ia mengkhawatirkan putranya, Lee Baekhyun. Apakah putranya itu sudah makan? Apakah putranya itu tidur nyenyak? Ia ingin menghindar, tapi ia juga tidak bisa tenang jika Baekhyun belum bisa mendapatkan kenyamanan. Ia rindu dengan putranya itu. Putranya yang lebih memilih bersama dengan Donghae. Ayahnya, ketimbang dirinya. tapi Baekhyun memang sama sekali tidak membencinya atas perpisahan orang tuanya juga. Anak itu bisa mengerti di usianya yang masih kecil. Jessica merasa sangat bersalah setiap melihat sorot mata putranya itu, melihat ada banyak kesedihan yang disimpan dan tersmpaikan dari sorot matanya.

Ia meraih ponselnya, melihat beberapa notifikasi terpampampang di layar ponselnya. Kebanyakan dari Kris, menanyakan keadaannya. Lalu beberapa dari teman-temannya. Kemudian satu pesan muncul diantara banyaknya pesan. Pesan itu dari Lee Donghae.

Donghae Oppa : Kau sudah makan? Jaga kesehatanmu.

Usai membaca kalimat yang ada di pesan yang dikirim oleh suaminya—calon mantan suaminya—Jessica merasakan matanya mengumpulkan cairan dan kini jatuh kembali diatas pipinya dan mengalir deras membasahi wajahnya.

Ya Tuhan... bahkan setelah dikhianati olehnya. Donghae masih saja peduli padanya.

Jessica memukul dadanya yang terasa sesak. Tangisnya pecah saat berbagai kenangan menyeruak hebat dalam otaknya. Kenangan manis bersama Donghae membuat rasa bersalah yang dirasakannya semakin mengukung hebat dan sesak di dalam dada. Tangisnya tersendat-sendat dengan isak tangis yang mengisi keheningan ruangan itu. Tangan kanannya masih menggenggam erat ponsel yang juga masih menampakan pesan dari Donghae itu.

Mianhe...Mianhe...” Racau Jessica. ia terus menggumamkan kata itu disela tangisnya yang belum kunjung ingin berhenti ketika dirinya terus saja mengingat perhatian dan manisnya perilaku Donghae padanya selama ini. semua itu membuat Jessica merasa bersalah, merasa bahwa dirinyalah yang sangat tidak pantas untuk pria itu, untuk merasa dicintai pria itu dengan begitu besar.

Di luar kamar, Minkyung bersandar pada pintu kamar yang ditempati Jessica. ia mendengar suara tangis Jessica dengan sangat jelas. Ia hanya bisa turut sedih mendengar kabar ini. Ia hanya berharap mereka bisa berpisah dengan baik-baik jika memang hanya jalan itu yang bisa mereka tempuh. Namun harapan terbesarnya tentulah melihat Jessica dan DOnghae tetap bersama membina rumah tangga mereka. Apalagi sekarang dengan adanya Baekhyun dan bayi  yang di kandung oleh Jessica, Minkyung berharap Jessica mampu memikirkan lagi keputusannya untuk berpisah dnegan Donghae.

“Mereka saling mencintai. Lalu kenapa harus berpisah?” Gumam Minkyung, ia menatap pintu kamar Jessica beberapa saat, kemudian pergi dari sana untuk masuk kekamarnya sendiri yang berada di sebelah kamar Jessica.


STROM—Gorjesso

Pagi masih sama, menunjukan kesejukan dengan semilir angin yang menerpa untaian rambut berwarna cokelat dari seorang wanita yang tengah terduduk dengan memperdengarkan alunan musik klasiik milik Schuman yang berjudul Armes. Salah satu lagu klasik kesukaannya, rasa suka yang timbul karena ayahnya sering memperdengarkan lagu-lagu klasik semasa ia kecil dulu. Dan tiba-tiba saja ia jadi merindukan ayahnya.

Satu liquid bening yang berasal dari matanya menetes turun di atas pipinya. Semalaman ia tidak bisa tidur. Matanya kini terasa pedih karena terus menangis. Kelopak matanya sudah menghitam. Namun tidak ada yang ingin Jessica lakukan selain merenung di dekat jendela, menatap apa yang ada di depannya dengan sorot mata yang kosong. Ia tahu, Minkyung beberapa kali menghampiri kamar ini untuk melihat keadaannya tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya dan terus mengunci mulutnya dan tanganya yang senantiasa mengusap perutnya yang masih datar.

6 minggu. Kehamilannya sudah berusia 6 Minggu. Ia memang sempat menunda kehamilan setelah Baekhyun lahir. Namun setelah 3 tahun, ia sudah tidak memasang lagi alat pencegah kehamilan. Karena ia dan Donghae ingin menambah momongan lagi yang bisa meramaikan suasana rumah mereka. sampai usia Baekhyun sekarang, berarti dua tahun setelah mereka memutuskan untuk menambah momongan lagi, Jessica tak kunjung menerima anugerah Tuhan itu. Dan justru anugerah itu harus hadir di saat yang kurang tepat. Disaat orang tuanya memutuskan untuk berpisah.

 Jessica tidak mengerti kenapa ini harus terjadi. Ia senang, sangat senag sekaligus bersyukur dengan hadirnya sebuah nyawa lagi di dalam rahimnya. Karena sudah di dambakannya sejak lama. Namun ia terus meminta maaf dalam hatinya, meminta maaf kepada janinnya karena harus hadir di tengah kemelut rumahtangga orang tuanya yang sudah di ujung tanduk. Ketika orang tuanya sudah sepakat untuk berpisah. Dan ia menyesal karena baru mengetahui kehamilannya kemarin. Andai saja ia mengetahui kehamilannya sebelum ia bertemu dengan Donghae di rumah itu. Di dalam hatinya ia ingin terus bersama dengan Donghae dan memlih pria itu. tapi semua sudah di putuskan. Ia memilih berpisah dan berpihak pada Kris. meskipun Kris jugabelum tahu keputusanya ini karena ia terlalu bimbang. Rasanya otaknya akan meledak saat ini juga.

“Jessica...”

Jessica mengusap air matanya namun ia bergeming di tempatnya duduk tanpa menoleh pada suara yang memanggilnya. Ia tahu pasti itu suara Minkyung. Dan ia mendengar suara langkah kaki yang menghampirinya.

Minkyung duduk di sampingnya. Di sofa yang panjangnya mampu memuat 2 orang duduk diatasnya. Jessica menoleh pada Minkyung sekilas lalu tersenyum dan kembali menatap ke depan lagi.

Ia mendengar Minkyung menghela nafas. “Kau belum menyentuh makananmu sejak semalam. Apa kau ingin kesehatanmu yang belum pulih ini semakin turun? Kau tidak berencana untuk membunuh bayimu ‘kan?” Tanya Minkyung.

Jessica terkekeh namun terasa hambar di telinga Minkyung. “Aku hanya  tidak  tahu harus berbuat apa Minyung-ah...” Ujar Jessica lirih. Ia menundukan kepalanya dan mengusap perutnya lembut. “Aku senang dia datang dihidupku, tetapi aku menyesal karena ia datang saat orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Jika kau jadi aku, apa yang harus kau lalukan?”
Minkyung menatap sedih sahabatnya yang mmaish menundukan kepalanya itu. Jika ia menjadi Jessica, ia pun tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Karena Minkyung yakin, rasa cinta Jessica untuk Donghae dan Kris sama besarnya di hati Jessica. Entah mungkin ada salah satu dari dua pria itu yang lebih istimewa di hati Jessica, Minkyung berharap itu adalah Donghae, bukan bermaksud untuk berpihak pada calon mantan suami Jessica itu, namun jika di pikirkan lagi. Mereka masih mencintai, mereka punya Baekhyun, mereka punya masa lalu yang kurang menenangkan, namun punya masa sekarnag  yang membahagiakan, walau harus ternodai dengan semau hal ini, perpisahan. Dan satu lagi, Jessica dan Donghae mempunyai calon bayi lagi. Jelas, di masa depan mereka akan kembali bahagia lagi.

Tapi soal perasaan dan isi kepala Jessica, siapa yang tahu.

“Sungmin oppa menghubungiku.” Kata Minkyung, sama ia menghadap ke depan, melihat pemandnagan belakang klinik sekaligus rumahnya.

Jessica mendongak dan menoleh pada Minkyung, alisnya bertaut menunggu apa yang akan di katakan oleh Minkyung.

Minkyung tersenyum kecil mengingat Sungmin, sahabat dan sekaligus kakak untuk Jessica. Dan dia juga menghormati pria itu. sudah lama ia tidak bertemu denga pria itu. “Seperti biasa...insting sungmin oppa selalu tepat. Dia tahu kau disini.”

Mata Jessica membulat, namun ia menormalkan lagi ekspresi wajhnya. Ia sedikit terkejut karena Sungmin mengetahui keberadaannya. “Lalu?”

“Lalu dia hanya berpesan untuk menjagamu. Dia meminta untuk menemanimu, kau butuh teman bercerita, menumpahkan semua yang mengusik pikiranmu, dan membantuku untuk berpikir lebih matang lagi. Dan dia menyuruhku untuk membiarkanmu menginap beberapa hari di sini sampai kau menemukan apa yang harus kau putuskan.” Jelas Mingkyung.

“Apa kau memberitahu Sungmin oppa bahwa aku sedang...hamil?” Tanya Jessica ragu.

Minkyung menggelengkan kepalanya. “Tidak, tentu saja tidak. Kau juga pasti sudah bisa memprediksi apa yang akan dia lakukan jika dia tahu kau sednag hamil. Dia akan datang kemari dan menyeretmu untuk kembali pada Donghae entah kau setuju atau tidak, dan dia akan membuat sebuah huru hara agar Kris bisa di deportasi dari Korea Selatan.”

Jessica tertawa kecil mendengar khayalan Minkyung tentang Sungmin. “Ya, salah satunya pasti akan seperti itu. Sungmin oppa selalu seperti itu, tapi ia selalu tepat dan benar.” Ujar Jessica.

“Dan kau tidak ingin mengikuti kebenaran itu?” Timpal Minkyung.

“Maksudnya?”

“Kau, kembali kepada Donghae oppa dan membesarkan anak kalian.”

Jessica terdiam mendengar perkataan Minkyung. Haruskah ia kembali?


Lee Family Kingdom “STROM” | A fanfiction by gorjessO@2016 All Right Reserved
Fb : Tatika Fransmorona | @tha_tika29 // Instagram: @gorjesgyu





TBC

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites